Kukuhkan Asosiasi Peternak Ayam, Pemkab Bojonegoro Mendorong Penguatan Ekonomi dan Serapan Tenaga Kerja
- tim tvOne
Bojonegoro, tvOnenews.com – Dua asosiasi peternak ayam di Kabupaten Bojonegoro dikukuhkan untuk memperkuat kelembagaan dan koordinasi pelaku usaha peternakan. Penguatan organisasi ini diharapkan dapat membantu peternak menghadapi persoalan produksi, harga, hingga pemasaran.
Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah mengukuhkan pengurus Asosiasi Peternak Ayam Pedaging dan Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kabupaten Bojonegoro di Ruang Angling Dharmo, Gedung Pemkab Bojonegoro, Rabu (7/10).
Pengukuhan tersebut berlangsung di tengah upaya pemerintah daerah meningkatkan produksi peternakan, khususnya telur ayam. Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro, populasi ayam ras petelur pada Juni 2026 mencapai 658.353 ekor. Sementara populasi ayam ras pedaging mencapai 3.345.721 ekor.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro, Drh. Catur Rahayu, mengatakan penguatan kelembagaan diperlukan agar peternak lebih mudah melakukan koordinasi, mengakses informasi dan program pemerintah, memperoleh sarana produksi, serta mengembangkan kemitraan.
”Asosiasi ini diharapkan mampu menjadi jembatan antara pemerintah dengan para pelaku usaha peternakan dalam menyampaikan aspirasi, kebutuhan, serta berbagai permasalahan yang dihadapi di lapangan. Seperti fluktuasi harga pakan dan hasil produksi, kesehatan hewan, akses permodalan, pemasaran, serta pengembangan kemitraan usaha,” terangnya.
Saat ini terdapat 266 kelompok tani ternak yang telah terdaftar di Kabupaten Bojonegoro. Dari jumlah tersebut, 206 kelompok memiliki Surat Keterangan Terdaftar (SKT), sedangkan 60 kelompok telah memiliki badan hukum.
Di sisi lain, produksi telur Bojonegoro masih belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan daerah. Nurul Azizah mengatakan pada 2022 kebutuhan telur mencapai sekitar 8 ribu ton per bulan, sementara produksi lokal baru sekitar 1.000 ton. Dengan demikian, terdapat defisit sekitar 7 ribu ton.
Kondisi tersebut mulai berubah setelah pemerintah menjalankan Program GAYATRI (Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri). Berdasarkan data terakhir pada Agustus 2026, defisit telur disebut telah menurun menjadi sekitar 3 ribu ton.
“Tantangan kita adalah saat produksi ternyata harga telur turun. Namun apa yang disampaikan Pak San sebagai ketua Asosiasi, ungkapkan optimis menjadi petarung, meski harga telur turun,” ujarnya.
Program GAYATRI melalui APBD pada 2025 menyasar 5.400 Keluarga Penerima Manfaat yang tersebar di 28 kecamatan. Pada 2026, program tersebut kembali dilaksanakan dengan sasaran 4.400 KPM.
Sementara Program PDKT (Program Domba Kesejahteraan Masyarakat) pada 2025 menyasar 1.200 KPM di seluruh kecamatan di Bojonegoro. Pada 2026, sasaran program tersebut meningkat menjadi 3.575 KPM.
Menurut Nurul, keberadaan asosiasi dapat menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah dan peternak untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memenuhi kebutuhan pasar.
Defisit telur yang masih terjadi dinilai menjadi peluang bagi peternak untuk mengembangkan usaha. Peningkatan aktivitas peternakan juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja.
“Pak Samsul bilang dengan berdirinya peternak ayam pedaging telah membuka lapangan tenaga kerja 2.780 orang di 219 kandang dengan perputaran uang dalam semusim 25 miliar. Luar biasa, kami berterima kasih,” tuturnya.
Dengan pengukuhan dua asosiasi tersebut, pemerintah daerah berharap kelembagaan peternak semakin kuat, sehingga persoalan produksi, harga, pemasaran, dan pengembangan usaha dapat dibahas secara lebih terkoordinasi. (gol)
Load more