Lepas Rindu dalam Jeruji Besi, Warga Binaan Lapas Kelas Dua B Buka Puasa Bersama Keluarga
- tim tvOne/Andri Saputra
Pariaman, tvOnnews.com – Pemandangan berbeda terlihat di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Pariaman pada sore hari di bulan Ramadan kali ini. Kawat berduri yang biasanya tampak mengancam seolah kehilangan ketajamannya di bawah langit senja. Tawa renyah anak-anak menyeruak di antara percakapan hangat keluarga yang memenuhi ruangan terbatas tersebut.
Ratusan pria berseragam warga binaan duduk bersimpuh. Mereka tidak sedang menghadap jeruji besi, melainkan bersandar pada bahu dan wajah-wajah yang paling mereka rindukan.
Momentum Ramadan senantiasa disambut sukacita oleh umat Muslim di seluruh dunia. Kebersamaan yang dibalut ketaatan ibadah mewarnai bulan penuh ampunan (maghfirah) ini. Namun, nuansa emosional yang jauh lebih dalam dirasakan oleh para warga binaan yang harus mendekam di balik jeruji sebagai bentuk pertanggungjawaban pidana.
Luka di Kampung Sendiri
Hal itulah yang dirasakan oleh Dikiman (49). Kasus penembakan kambing tetangga yang masuk ke ladangnya memaksa pria ini merasakan sepi dari kehangatan keluarga. Vonis hakim mengharuskannya mendekam selama lima bulan di Lapas Kelas IIB Pariaman.
Bagi Dikiman, berpisah dengan keluarga sebenarnya bukan hal baru. Sebagai mantan pelaut yang bekerja di kapal tuna sejak 1997 hingga 2006, ia sudah terbiasa hidup sendiri dan jarang pulang.
"Kalau soal dipenjara, bagi saya tidaklah begitu menyakitkan karena saya sudah terbiasa sebagai pelaut yang pulang setahun sekali," ujarnya tegar.
Namun, realitas kali ini berbeda. Kesendirian di kampung halaman sendiri, yang dibatasi oleh aturan dan jeruji, membuatnya tak mampu menahan nestapa. Ia terpaksa berpisah dengan buah hatinya yang baru berusia dua tahun.
"Momen kali ini begitu pahit. Ketika saya sudah memutuskan berhenti berlayar dan memilih berladang agar bisa berkumpul bersama keluarga, sekarang saya justru harus mendekam di penjara hanya karena kasus pembunuhan ternak yang memakan tanaman di ladang saya," tuturnya kepada tvOnenews.com saat acara buka bersama keluarga, Kamis (5/3/2026).
Bagi pria yang telah menjalani dua bulan masa hukuman ini, kasusnya terasa sangat memukul batin. "Saya banyak merenung di sini, mencoba bersabar dan ikhlas. Bagi saya, orang yang buta hukum dan tidak memiliki relasi kuat, akhirnya harus berakhir di balik jeruji," lirihnya.
Pelajaran Hidup dari Balik Sel
Kepahitan serupa namun dalam balutan haru juga dirasakan oleh Ari Mardo (41). Momentum buka bersama tanpa sekat ini dianggapnya sangat bermakna. Sejak sebelum berbuka hingga menjelang azan Isya, Ari benar-benar meresapi waktu yang diberikan otoritas Lapas.
Warga binaan kasus narkotika dengan masa hukuman 4 tahun 3 bulan ini tak banyak bicara. Usapan tangan di kepala tiga buah hatinya serta pelukan hangat sang istri menjadi obat mujarab bagi perasaan gulana yang ia tanggung.
Ia berjanji, penderitaan ini akan menjadi pembelajaran berharga. "Baru kali ini saya benar-benar memahami soal hidup. Di sini saya sadar siapa teman dan siapa lawan, siapa yang sebenarnya tulus mencintai dan harus diperjuangkan," kata Ari yang mengaku terjerat narkoba akibat salah pergaulan.
Kisah lain datang dari Bima Setiawan (26). Warga binaan yang divonis 4 tahun 2 bulan atas kasus narkotika ini mengaku baru kali ini merasakan kehangatan yang begitu mengharukan selama dua tahun mendekam di sel. Momentum singkat ini seolah melepas dahaga kerinduannya terhadap anak semata wayangnya yang beranjak usia tiga tahun.
Dukungan Keluarga sebagai Kekuatan
Kalapas Kelas IIB Pariaman, Boy Irfan Arsla, mengungkapkan bahwa ruang berkumpul ini adalah wujud kepedulian antarsesama manusia. Ia memanfaatkan momentum Ramadan untuk memperkuat dukungan moral bagi warga binaan.
“Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk mempererat hubungan keluarga sekaligus memperkuat tekad memperbaiki diri. Dukungan keluarga merupakan salah satu faktor terpenting yang mendorong warga binaan menjalani pembinaan dengan lebih baik,” ujar Boy Irfan.
Menjelang azan Magrib, suasana haru semakin kental terasa. Di Lapas yang kini dihuni oleh 590 warga binaan tersebut, percakapan hangat dan senyum yang terukir di wajah mereka mencerminkan satu hal: kerinduan yang mendalam untuk sejenak berhasil melampaui batas ruang dan waktu. (Asa/wna)
Load more