Pendidikan Khas Kejogjaan Merambah Kampus, Sri Sultan: Bangun Ilmu yang Berjiwa Budaya
- Tim tvOne - Tim tvOne
Menutup sambutannya, Sri Sultan menegaskan bahwa ukuran tertinggi pendidikan bukan sekadar jumlah mata kuliah atau kegiatan akademik yang diselenggarakan, melainkan manfaatnya bagi kehidupan.
Ia pun mengajak perguruan tinggi di DIY untuk menjadikan Pendidikan Khas Kejogjaan sebagai gerakan ilmu yang berjiwa budaya.
Gerakan yang menempatkan kebudayaan sebagai sumber nilai, ilmu sebagai alat pemuliaan, dan kesejahteraan manusia sebagai tujuan akhirnya. Sebab bagi Sri Sultan, ilmu yang tidak pernah pulang kepada nilai, cepat atau lambat, akan kehilangan arah untuk apa ia bekerja.
“Semoga dari Yogyakarta, lahir model pendidikan tinggi yang mampu menyatukan akar dan kemajuan, nalar dan rasa, kebijakan dan laku. Semoga ikhtiar ini menjadi sumbangsih Daerah Istimewa Yogyakarta bagi Indonesia: pendidikan yang memerdekakan, membudayakan, dan menyejahterakan,” kata Sri Sultan.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Brian Yuliarto dalam sambutannya secara daring mengapresiasi peluncuran buku panduan PKJ untuk Pendidikan Tinggi ini. Ia menyebut, Yogyakarta memiliki kedudukan istimewa dalam perjalanan pendidikan di Indonesia.
Yogyakarta telah menjadi ruang lahirnya para pemikir, ilmuwan, pemimpin, dan generasi muda yang memberikan kontribusi bagi bangsa.
Bagi Brian, keistimewaan tersebut juga tumbuh dari nilai-nilai luhur yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta. Filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh, serta semangat Golong Gilig, dinilai mengandung pesan tentang harmoni, keteguhan, tanggung jawab, dan kebersamaan yang relevan bagi pendidikan tinggi.
“Perguruan tinggi, memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus memiliki karakter, integritas, kepekaan sosial, dan pemahaman terhadap akar budayanya. Karena itu, hadirnya Buku Panduan Pendidikan Khas Kejogjaan untuk Pendidikan Tinggi merupakan langkah yang baik untuk mempertemukan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi,” sebut Brian.
Ia menilai, integrasi nilai-nilai Kejogjaan ke dalam kurikulum perlu dikembangkan secara kontekstual dan kreatif.
Nilai budaya tidak cukup hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi perlu diterjemahkan menjadi pengalaman belajar yang membentuk cara berpikir, cara bersikap, serta cara mahasiswa menggunakan ilmu pengetahuan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Terlebih, mahasiswa yang belajar di Yogyakarta berasal dari berbagai daerah dan latar belakang.
Load more