Izin Ekspor Belum Keluar, Freeport Ancang-Ancang Kirim Konsentrat Tembaga ke China: Sudah Dimuat dan Siap Berangkat?
- Freeport
Jakarta, tvOnenews.com - Freeport McMoRan (FCX-N) melalui PT Freeport Indonesia (PTFI) berencana melanjutkan pengiriman konsentrat tembaga dari Papua pada bulan ini saat lisensi ekspor yang baru mereka terbit.
Sebelumnya, izin ekspor PTFI telah habis sejak Desember dan sampai saat ini masih menunggu izin ekspor konsentrat dibuka oleh pemerintah.
Sebagaimana diketahui, pemerintah melakukan pembatasan ekspor bahan mentah agar perusahaan tambang dalam negeri meningkatkan nilai tambah ekspor mereka melalui hilirisasi.
Freeport sendiri memang tetap ingin mengekspor konsentrat karena pabrik pemurnian atau smelter PTFI di Kawasan Industri JIIPE Manyar, Gresik, Jawa Timur, masih belum beroperasi akibat kebakaran pada Oktober lalu.
Mengutip Reuters yang mendapatkan informasi dari pihak terkait, PTFI telah ancang-ancang dan mulai memuat konsentrak untuk dikirim ke China pada Jumat, dengan harapan izin ekspor akan diterbitkan sebelum akhir bulan.
Sumber lain juga mengungkapkan, pengiriman konsentrat tembaga dari Tambang Grasberg Papua diperkirakan akan dilakukan pada akhir Februari.
VP Corporate Communications
PT Freeport Indonesia Katri Krisnati menegaskan bahwa informasi tersebut tidak jelas sumbernya.
"Kami tidak dapat memberikan tanggapan atas informasi dari sumber yang tidak jelas," ujar Katri kepada tvOnenews.com, Sabtu (15/2/2025) sore.
Kendati demikian, PTFI tak menampik bahwa sampai saat ini pihaknya memang menunggu pemerintah membuka izin ekspor konsentrat lagi.
"Seperti yang dilaporkan sebelumnya dalam Laporan FCX Kuartal IV dan Akhir Tahun 2024, PT Freeport Indonesia berharap dapat memulai kembali ekspor konsentrat tembaga pada kuartal pertama 2025," tegas Katri.
Kapasitas Penyimpanan PTFI Sudah Penuh
PT Freeport Indonesia (PTFI) harus menyesuaikan produksi konsentrat tembaga karena kapasitas penyimpanan sudah penuh.
Kondisi ini terjadi di fasilitas penyimpanan yang ada di Amamapare, Papua Tengah, serta di smelter PTFI di Gresik, Jawa Timur sudah tak muat lagi.
Akibatnya, PTFI terpaksa melakukan penyesuaian dengan menekan jumlah produksi demi menghindari kelebihan muatan.
“Penyesuaian produksi di hulu terpaksa dilakukan karena saat ini kapasitas penyimpanan konsentrat PTFI, baik di Amamapare, Papua Tengah maupun di smelter PTFI, Gresik, Jawa Timur sudah penuh,” ujar VP Corporate Communications PT Freeport Indonesia Katri Krisnati dikutip dari ANTARA dari Jakarta, Jumat (14/2/2025).
Hal ini menegaskan informasi dari Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno yang sebelumnya menyebutkan bahwa PTFI memangkas produksi konsentrat tembaga hingga 60% dari kapasitas normalnya.
Tri menjelaskan, langkah ini diambil karena tempat penyimpanan yang tersedia sudah tidak mampu menampung lebih banyak konsentrat.
Masalah ini berawal dari izin ekspor konsentrat tembaga yang belum diperpanjang oleh pemerintah sejak berakhirnya masa berlaku pada 31 Desember 2024.
Situasi semakin rumit setelah kebakaran terjadi pada Oktober 2024 di unit pengolahan asam sulfat milik smelter Freeport di Gresik.
Akibat insiden tersebut, kegiatan produksi di smelter Gresik terhenti sementara, sehingga Freeport mengajukan perpanjangan izin ekspor kepada pemerintah. Namun sampai saat ini izin tersebut belum juga diberikan.
Tri menyatakan, pemerintah masih menyelesaikan investigasi terhadap kebakaran yang terjadi di smelter sebelum mengambil keputusan terkait izin ekspor.
Hasil penyelidikan sejauh ini menunjukkan bahwa kebakaran tersebut tidak disengaja.
“Kalau ada kesengajaan, asuransi dia nggak cair. Itu kan diasuransikan,” ujar Tri. (rpi)
Load more