Rupiah Tertekan di Awal Perdagangan, Sinyal Hawkish The Fed Bikin Dolar AS Menguat
- Antara
Lukman menyebutkan, inflasi inti AS diproyeksikan naik dari sebelumnya 2,6 persen menjadi 2,7 persen. Sementara itu, inflasi utama diperkirakan tetap bertahan di level 2,7 persen.
“Kondisi ini berpotensi mendorong penguatan dolar AS lebih lanjut dan memberikan tekanan tambahan bagi rupiah,” ungkapnya.
Ekspektasi inflasi yang masih tinggi memperkuat pandangan bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Hal ini menjadi salah satu faktor utama yang membatasi penguatan mata uang negara berkembang.
Rupiah Berpotensi Bergerak Fluktuatif
Dengan kombinasi sentimen global tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas. Pelaku pasar cenderung berhati-hati sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter AS ke depan.
Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam kisaran yang cukup lebar pada perdagangan hari ini.
“Rupiah diperkirakan berada di rentang Rp16.800 hingga Rp16.900 per dolar AS,” katanya.
Rentang tersebut mencerminkan ketidakpastian pasar yang masih tinggi, terutama menjelang rilis data ekonomi penting dari AS. Selama dolar AS tetap menguat, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum akan mereda.
Pasar Tunggu Sentimen Lanjutan
Ke depan, pelaku pasar akan terus memantau perkembangan data ekonomi global, khususnya dari AS. Selain inflasi, sinyal lanjutan dari pejabat The Fed terkait arah suku bunga akan menjadi faktor kunci yang memengaruhi pergerakan rupiah.
Di dalam negeri, stabilitas nilai tukar juga akan dipengaruhi oleh respons otoritas moneter dalam menjaga keseimbangan pasar keuangan. Namun untuk jangka pendek, sentimen eksternal masih menjadi penentu utama arah pergerakan rupiah.
Dengan kondisi tersebut, rupiah diperkirakan masih bergerak dinamis dan sensitif terhadap setiap perkembangan kebijakan moneter AS serta data ekonomi global yang dirilis dalam waktu dekat. (nsp)
Load more