Jika RI Turun Kasta ke Frontier Market, Ini Dampak Besar bagi IHSG, Rupiah, dan Arus Modal
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Pasar saham Indonesia menghadapi risiko besar jika benar-benar turun kelas dari emerging market menjadi frontier market. Ancaman ini muncul setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) merilis perubahan metodologi free float yang berpotensi memicu reklasifikasi status Indonesia pada 2026. Jika skenario terburuk terjadi, dampaknya diperkirakan tidak hanya menghantam IHSG, tetapi juga nilai tukar rupiah, stabilitas pasar keuangan, hingga persepsi investor global terhadap ekonomi nasional.
Dalam beberapa hari terakhir, sentimen negatif sudah mulai terasa. IHSG terkoreksi tajam menyusul pengumuman MSCI, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap arus keluar dana asing yang berpotensi masif. Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, bahkan menyebut Indonesia kini harus bersiap menghadapi kemungkinan masuk kategori frontier market, sejajar dengan negara-negara seperti Bangladesh, Pakistan, hingga Senegal.
“Kalau untuk perubahan dari market sekarang ke frontier market, kurang lebih US$25–50 miliar outflow. Saya serahkan balik kepada regulator bagaimana mereka mau bekerja di sini,” ujar Pandu dalam Prasasti Economic Forum 2026 di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Potensi Dampak Besar bagi Pasar Indonesia
Jika Indonesia resmi turun kasta, dampaknya terhadap pasar domestik diperkirakan signifikan, antara lain:
-
Arus Dana Asing Keluar Besar-besaran
Dana asing yang keluar diperkirakan mencapai US$25–50 miliar atau sekitar Rp417–835 triliun (kurs Rp16.700). Angka ini setara dengan puluhan persen kapitalisasi transaksi tahunan di pasar saham Indonesia, sehingga berpotensi memicu tekanan jual berkepanjangan. -
IHSG Berisiko Masuk Fase Bearish
Dengan berkurangnya partisipasi investor institusi global, likuiditas pasar bisa menurun drastis. Hal ini berisiko membuat IHSG bergerak lebih volatil dan sulit pulih dalam jangka pendek, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi incaran investor asing. -
Tekanan pada Nilai Tukar Rupiah
Arus keluar dana asing dari pasar saham berpotensi menular ke pasar obligasi dan valas. Jika capital outflow meluas, rupiah berisiko melemah tajam, meningkatkan tekanan inflasi impor serta biaya utang luar negeri. -
Turunnya Minat Investor Jangka Panjang
Status frontier market biasanya diikuti persepsi risiko yang lebih tinggi. Banyak dana pensiun dan investor institusional global hanya diperbolehkan berinvestasi di emerging market, sehingga Indonesia bisa kehilangan basis investor jangka panjang yang stabil.
Load more