Anindya Bakrie Ungkap Ancaman dan Peluang Transisi Energi: Menuju Net Zero Kita Butuh 100 Gigawatt Daya
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, membeberkan besarnya tantangan sekaligus peluang strategis Indonesia dalam menghadapi transisi energi global, khususnya seiring lonjakan kebutuhan listrik akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan pusat data (data center).
Dalam Indonesia Economic Summit 2026 di Shangri-La Jakarta, Rabu (4/2/2026), Anindya menegaskan bahwa agenda pertumbuhan hijau Indonesia tidak terlepas dari kisah besar transisi energi yang kini menjadi medan persaingan global.
“Saya pikir ini juga merupakan kisah transisi energi. Saya pikir teman saya di sini dari LSE menyebutkan bahwa AI dan oleh karena itu pusat data (data center) adalah hal yang besar,” ujar Anindya.
Ia mengungkapkan, kebutuhan listrik untuk menopang perkembangan AI dan pusat data dalam beberapa dekade ke depan akan melonjak tajam, bahkan mencapai skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Kami memperkirakan bahwa dalam 25 hingga 35 tahun ke depan menuju Net Zero, kita membutuhkan sekitar 100 gigawatt daya untuk pusat data saja,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Anindya menilai langkah PT PLN (Persero) yang memulai program penambahan kapasitas pembangkit sebesar 75 gigawatt menjadi sinyal penting keseriusan Indonesia dalam transisi energi.
“Jadi, bahwa PLN sedang memulai program 75 gigawatt, di mana 75 persen di antaranya berasal dari energi terbarukan, adalah hal yang besar. Dan saya rasa kita sangat mendukung hal itu,” tegasnya.
Tak hanya itu, Anindya juga menyoroti kebutuhan energi dalam skala jauh lebih besar untuk mendukung hilirisasi mineral kritis dan pengembangan energi surya nasional. Ia memperkirakan kebutuhan energi surya Indonesia dalam jangka panjang mencapai ratusan gigawatt.
“Dan juga untuk beranjak dari ini, Anda tahu, hilirisasi mineral kritis jika saya melompat kembali, kita membutuhkan sekitar 500 gigawatt mungkin dalam 25 hingga 35 tahun ke depan untuk energi surya,” ungkap Anindya.
Menurutnya, ketersediaan sumber daya alam di dalam negeri, termasuk silika, membuka peluang industri yang sangat besar bagi Indonesia untuk masuk lebih dalam ke rantai pasok global energi bersih.
“Dan oleh karena itu, dengan silika yang dimiliki di dalam negeri, sumber daya alam juga, itu adalah peluang yang sangat, sangat besar bagi kita semua untuk memulainya,” ujarnya.
Load more