Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam, Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan Global
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan tren penguatan signifikan dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global di tengah memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga minyak jenis Brent sebagai acuan global ditutup di level US$112,57 per barel pada Jumat (27/3/2026), naik sekitar 4,2 persen. Posisi ini menjadi yang tertinggi sejak pertengahan 2022 dan mendekati rekor dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, minyak jenis WTI juga menguat tajam dan ditutup di angka US$99,64 per barel, naik 5,5 persen. Penguatan ini menegaskan tren kenaikan harga energi yang terus berlanjut dalam beberapa pekan terakhir.
Lonjakan Dipicu Ketegangan dan Risiko Pasokan
Kenaikan harga minyak tidak lepas dari meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun Presiden AS, Donald Trump, menyatakan telah membuka jalur negosiasi, pasar belum sepenuhnya merespons positif.
Faktor utama yang mendorong lonjakan harga adalah kekhawatiran terhadap terganggunya distribusi minyak, khususnya melalui jalur strategis Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu titik vital perdagangan energi dunia.
Meski terdapat upaya diplomasi, pasar menilai risiko gangguan pasokan masih sangat tinggi. Hal ini membuat harga minyak tetap berada dalam tekanan naik.
Kinerja Mingguan dan Bulanan Menguat Signifikan
Secara mingguan, harga minyak Brent tercatat naik sekitar 0,38 persen. Namun jika dilihat dalam periode yang lebih panjang, lonjakannya jauh lebih signifikan.
Sejak konflik memanas pada akhir Februari 2026, harga minyak telah melonjak lebih dari 55 persen dalam waktu sekitar satu bulan. Bahkan sepanjang Maret, kenaikan diperkirakan menembus lebih dari 50 persen, menjadi salah satu penguatan terbesar sejak era 1990-an.
Sementara itu, minyak WTI mencatat tren positif selama enam pekan berturut-turut, menandakan tekanan pasar yang terus berlangsung.
Selat Hormuz Masih Jadi Titik Kritis
Ketidakpastian di Selat Hormuz menjadi perhatian utama pelaku pasar global. Jalur ini dilaporkan mengalami gangguan signifikan, dengan sekitar 17,8 juta barel minyak per hari terdampak.
Load more