Kadin Sebut Program Makan Bergizi Gratis Butuh 700 Juta Telur per Tahun, China Siap Masuk Kolaborasi
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Anindya Bakrie membuka peluang besar kolaborasi bisnis Indonesia–China, khususnya dalam mendukung program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam forum The 4th China International Supply Chain Expo Roadshow di Jakarta Selatan, Selasa (21/4/2026), ia menegaskan kebutuhan pangan nasional yang sangat besar sekaligus peluang investasi yang terbuka lebar.
Kadin menyambut forum ini sebagai momentum penting memperkuat hubungan dunia usaha kedua negara yang selama ini telah terjalin erat, baik di level pemerintah maupun pelaku bisnis.
Ia menyoroti langsung kebutuhan konkret dari program MBG yang tengah digencarkan pemerintah. Salah satu komoditas utama, telur, disebut mencapai angka fantastis.
“Jadi kita ketahui bahwa Indonesia butuh dengan program MBG (Makan Bergizi Gratis), makanan bergizi gratis kita 700 juta telur per tahun. Tadi teman-teman bicara dengan sekumpulan pengusaha yang akan menyediakan 3 juta per tahun,” jelas dia.
Pernyataan ini menegaskan adanya gap besar antara kebutuhan dan kapasitas pasokan, sekaligus membuka ruang kolaborasi lintas negara, termasuk dengan pelaku usaha dari China.
Anindya menilai hubungan Indonesia–China tidak hanya kuat di level diplomasi tinggi, tetapi mulai mengakar hingga ke tingkat daerah dan pelaku usaha.
“Jadi bagi saya benar-benar contoh bahwa hubungan Indonesia dan China bagus sekali di atas, antara dua pemimpin besar, tapi juga mulai bergerak sampai kepada level provinsi,” tuturnya.
Ia juga menyinggung panjangnya sejarah hubungan kedua negara, yang telah berkembang dari kerja sama awal hingga kemitraan strategis komprehensif.
“Jadi terima kasih untuk relasi yang luar biasa. Jadi China dan Indonesia mempunyai hubungan yang sangat panjang dari tahun ’50 seperti kita ketahui, dan mempunyai kemitraan strategis 2005 sampai kemitraan strategis komprehensif 2013,” urai Anindya.
Namun, fokus utama Kadin saat ini bukan sekadar hubungan bilateral, melainkan realisasi konkret di sektor bisnis. Kadin berencana menghadiri ajang ekspo rantai pasok di China pada akhir Juni, sekaligus mendorong kerja sama business to business (B2B) yang lebih luas dan inklusif.
“Namun yang paling penting, kami melihat bisnisnya oleh karenanya, pada akhir Juni, kami ingin menghadiri ekspo tersebut, tapi juga butuh rekomendasi dari teman-teman, baik dari BKPM, dari CCPIT, dari teman-teman Chamber of Commerce China,” jelas dia.
Anindya juga menekankan pentingnya memperluas jangkauan kerja sama hingga ke kota-kota potensial, guna memastikan investasi tidak hanya terpusat pada proyek besar, tetapi juga menyentuh pemberdayaan daerah di Indonesia.
“Kota mana lagi yang baiknya kita hadiri? Untuk supaya business to business itu bisa berjalan, bukan saja bisnis yang sudah besar, investasi yang miliaran dolar, tapi juga investasi yang tentunya membantu pemberdayaan daerah di Indonesia. Terutama pangan, dan tentunya terus kita butuhkan untuk ketahanan energi dan lain-lain,” ungkapnya.
Pernyataan ini mempertegas arah baru hubungan ekonomi Indonesia–Tiongkok dari sekadar investasi jumbo menuju kolaborasi yang lebih merata, langsung menyasar sektor pangan, energi, dan penguatan ekonomi daerah. (agr/rpi)
Load more