Rupiah Mulai Bangkit usai Tertekan Tajam, Sentimen Iran dan Ekonomi RI Jadi Penopang
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah mulai menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu pagi setelah sebelumnya sempat ditutup melemah tajam. Pergerakan rupiah yang perlahan pulih ini dipengaruhi sentimen global hingga optimisme pasar terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
Pada perdagangan Rabu, rupiah tercatat menguat 34 poin atau 0,20 persen menjadi Rp17.390 per dolar AS. Posisi tersebut membaik dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.424 per dolar AS.
Penguatan rupiah menjadi sorotan pasar setelah beberapa waktu terakhir mata uang Garuda mengalami tekanan akibat ketidakpastian geopolitik global dan penguatan indeks dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan penguatan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait konflik Iran.
Menurut dia, pasar merespons positif pernyataan Trump yang menyebut intensitas serangan terhadap Iran akan diturunkan. Kondisi itu membuat harga minyak dunia dan indeks dolar AS mulai melandai sehingga memberikan ruang penguatan bagi rupiah.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat mengikuti penguatan mayoritas mata uang regional yang dibuka menguat seiring dengan melandainya harga minyak dan index dollar akibat pernyataan Presiden Trump bahwa intensitas serangan ke Iran akan diturunkan,” ujar Rully Nova kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Rupiah Menguat Ditopang Redanya Ketegangan Iran
Mengutip laporan Sputnik, Donald Trump disebut memutuskan menunda Project Freedom, yaitu proyek yang bertujuan menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Penundaan tersebut dilakukan untuk membuka peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran. Kebijakan itu dinilai mampu meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pasar keuangan global sebelumnya sempat khawatir konflik Iran dapat mengganggu distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz. Kekhawatiran tersebut sempat menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Namun setelah ketegangan mulai mereda, rupiah perlahan mendapatkan sentimen positif. Investor mulai kembali masuk ke aset-aset emerging market setelah tekanan global berkurang.
Faktor Domestik Ikut Dorong Penguatan Rupiah
Selain sentimen global, penguatan rupiah juga didukung faktor domestik yang cukup kuat. Salah satunya berasal dari optimisme pasar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai solid.
Load more