Rupiah Loyo Rp17.926 per Dolar AS, Pengamat Sebut Imbas Perang Uranium AS-Iran dan Lonjakan Minyak Dunia
- ANTARA
Ketegangan geopolitik tersebut mendorong harga minyak terus bergerak naik. Dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia, tetapi juga memicu kekhawatiran inflasi global yang lebih tinggi.
“Kita melihat bahwa dengan tingginya harga minyak ya kemudian transportasi tinggi, mahal, kemudian logistik juga mahal membuat inflasi cukup tinggi,” katanya.
Di Amerika Serikat, kenaikan harga energi dinilai berpotensi memperpanjang tekanan inflasi. Kondisi tersebut membuat ruang bagi bank sentral AS untuk segera menurunkan suku bunga semakin sempit.
“Harga-harga konsumsi ya termasuk BBM, gasoline di Amerika Serikat terus mengalami kenaikan sehingga berdampak terhadap mempertahankan suku bunga bahkan bisa menaikkan suku bunga,” kata Ibrahim.
Menurutnya, pasar kini mulai mengantisipasi kemungkinan Federal Reserve tetap mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan masih membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini.
“Nah, ini yang yang cukup menarik ya sehingga apa? Sehingga apa, Bank Sentral Amerika Serikat kemungkinan besar ini akan mempertahankan suku bunga dan bisa menaikkan suku bunga dalam tahun ini satu kali,” ujarnya.
Prospek suku bunga tinggi AS menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ketika imbal hasil aset dolar AS semakin menarik, arus modal global cenderung kembali ke Amerika Serikat dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS. (agr/nsi)
Load more