Pertamax Naik, Pengamat Sebut Pemerintah Bisa Selamatkan APBN dan Redam Tekanan Rupiah
- Pertamina
Ibrahim mengingatkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah dan BBM masih sangat tinggi. Karena itu, setiap pengurangan beban subsidi dinilai akan memberikan dampak positif terhadap kondisi fiskal negara.
“Harus diingat bahwa impor BBM kita, minyak mentah kita Rp1,5 juta barel per hari. Artinya apa? 85 persen subsidi kemungkinan besar akan sedikit menyusut. Dan inilah yang membuat pasar kembali percaya terhadap pemerintah,” katanya.
Lebih jauh, Ibrahim menilai langkah pemerintah menjaga subsidi energi tetap terkendali akan membantu mencegah pelebaran defisit anggaran hingga mendekati batas psikologis 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Dan kalau seandainya subsidi Pertamax ini dinaikkan harganya kemudian subsidi pun juga, subsidi BBM dinaikkan Rp500 atau Rp1.000 kemungkinan besar defisit anggaran tidak akan mendekati 3 persen,” ujarnya.
Menurut dia, kebijakan yang dianggap lebih realistis terhadap kondisi fiskal tersebut berpotensi memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan domestik, termasuk nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Ini yang dilakukan oleh pemerintah dan saya sebagai seorang pengamat ekonomi ya percaya bahwa apabila pemerintah merespons kebijakan-kebijakan dari para pengamat kemungkinan besar rupiah dan indeks harga saham gabungan akan kembali menguat dan mencapai level rupiah di Rp19.000 kemungkinan besar tidak akan terjadi,” tutur Ibrahim. (agr/rpi)
Load more