Rupiah Ditutup Rp17.851 per Dolar AS, Pasar Sambut Efisiensi BUMN hingga Penolakan Dana IMF
- Ilustrasi AI/ChatGPT
Jakarta, tvOnenews.com – Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Senin (29/6/2026) di tengah meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.
Penguatan mata uang rupiah tidak hanya ditopang oleh penantian data ekonomi domestik awal Juli, tetapi juga dipengaruhi sentimen positif dari rencana restrukturisasi BUMN, penolakan bantuan Dana Moneter Internasional (IMF), hingga penguatan likuiditas perbankan.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah ditutup menguat 71 poin setelah sepanjang perdagangan sempat menguat hingga 85 poin.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 71 poin sebelumnya sempat menguat 85 poin di level Rp17.851 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.922,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Senin (29/6/2026).
Untuk perdagangan Selasa (30/6/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif, namun berpeluang melanjutkan penguatan.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp17.800-Rp17.860,” ujarnya.
Pasar Sambut Baik Upaya Strategis Pemerintah
Menurut Ibrahim, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada sejumlah indikator ekonomi domestik yang akan dirilis pada awal Juli, yakni neraca perdagangan dan tingkat inflasi.
Kedua data tersebut dinilai akan menjadi acuan penting dalam membaca kondisi ekonomi nasional sekaligus menentukan arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Di sisi lain, pasar juga merespons positif sejumlah langkah strategis pemerintah. Salah satunya adalah rencana Presiden Prabowo Subianto memangkas jumlah badan usaha milik negara (BUMN) dari sekitar 1.000 menjadi sekitar 250 perusahaan.
Kebijakan tersebut dinilai bertujuan mengurangi beban anggaran sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan perusahaan negara.
Sentimen positif juga datang dari keputusan pemerintah yang tidak mengambil tawaran bantuan dana sebesar US$30 miliar dari Dana Moneter Internasional (IMF).
Menurut Ibrahim, langkah tersebut dipandang sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah memiliki keyakinan terhadap daya tahan ekonomi nasional di tengah tekanan global.
“Bagi pelaku pasar, keputusan tersebut mempertegas optimisme pemerintah terhadap kekuatan fundamental ekonomi Indonesia,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga mengembalikan dana milik pemerintah yang ditempatkan di Bank Indonesia (BI) ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) senilai Rp281 triliun.
Load more