MUTU Kantongi Rp29,9 Miliar dari Private Placement, Kini Diperkuat Sandiaga Uno hingga Mantan Bos Grab
- tvOnenews
Dalam aksi ini, PT Samala Serasi Utama menjadi investor dengan porsi pembelian terbesar setelah menyerap 103,09 juta saham. Posisi berikutnya ditempati PT Bumi Hijau Sedaya dengan pembelian sebanyak 41,23 juta saham.
Sandiaga Salahuddin Uno yang berinvestasi melalui PT Samala Serasi Utama menyampaikan bahwa dana hasil private placement akan diarahkan untuk memperkuat bisnis inti MUTU sekaligus meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.
"Investasi ini bukan sekadar keputusan bisnis, tetapi juga bentuk dukungan kami terhadap akselerasi transformasi ekonomi hijau nasional yang semakin membutuhkan tata kelola,
transparansi, dan kepatuhan terhadap standar global. Kami percaya MUTU memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam mendukung agenda keberlanjutan Indonesia ke
depan," ujar Sandiaga Uno.
"Targetnya kita bisa mencapai pertumbuhan revenue yang solid. Kami juga melihat penggunaan artificial intelligence dapat menekan biaya sehingga margin perseroan dapat meningkat. Dalam jangka menengah dan panjang, MUTU juga akan aktif mengembangkan peluang di sektor ekonomi hijau," ujar Sandiaga.
Ia menilai prospek pertumbuhan MUTU juga terbuka lebar melalui pengembangan layanan bagi segmen UMKM, industri makanan dan minuman, serta sektor toksikologi yang masih menyimpan potensi pasar yang besar.
Direktur Keuangan PT Mutuagung Lestari Tbk Sumarna mengatakan kehadiran investor strategis bukan hanya memperkuat modal perusahaan, tetapi juga menjadi indikator meningkatnya kepercayaan pasar terhadap prospek bisnis MUTU.
"Kehadiran investor strategis ini menjadi bahan bakar baru bagi perseroan untuk berakselerasi lebih cepat. Hal ini menunjukkan visi bisnis jangka panjang MUTU berada di jalur yang tepat," kata Sumarna.
Perseroan berencana mengalokasikan dana hasil private placement untuk meningkatkan kapasitas laboratorium, khususnya pada layanan sertifikasi halal dan Testing, Inspection, Certification, Verification and Assurance (TICVA). Selain itu, perusahaan juga akan mempercepat pengembangan bisnis verifikasi karbon seiring meningkatnya permintaan terhadap layanan validasi emisi.
Manajemen menilai prospek bisnis karbon akan semakin menjanjikan setelah pemerintah mulai memberlakukan kewajiban perdagangan karbon pada 2026. Dalam mekanisme tersebut, setiap pengurangan emisi wajib melalui proses validasi dan verifikasi oleh lembaga terakreditasi sebelum diterbitkan menjadi Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK).
Load more