Ekowisata Tak Lagi Sekadar Menikmati Alam, Ini Konsep 7E yang Bisa Mengubah Cara Destinasi Dikembangkan
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Sementara itu, Selandia Baru memperkenalkan Tiaki Promise, sebuah komitmen bagi wisatawan untuk menjaga alam, bepergian dengan aman serta menghormati budaya dan masyarakat lokal. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa wisatawan sendiri merupakan bagian dari sistem keberlanjutan sebuah destinasi.
Dari berbagai contoh tersebut terlihat bahwa destinasi modern tidak cukup hanya memiliki alam yang indah. Ada sistem pengelolaan, aturan perilaku pengunjung, keterlibatan masyarakat, perlindungan budaya, hingga mekanisme untuk memastikan manfaat ekonomi tetap berada di wilayah destinasi.
Dari 3E Menjadi 7E: Ekowisata yang Lebih Utuh
Kerangka 7E dapat menjadi cara untuk menerjemahkan prinsip tersebut ke dalam pengalaman wisata.
Ekologi menjadi fondasi pertama. Pengembangan destinasi harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan, keanekaragaman hayati, air, vegetasi, energi, sampah dan pemulihan lahan.
Etnologi kemudian memastikan masyarakat dan budaya lokal tidak sekadar menjadi ornamen. Tradisi, pengetahuan lokal, kuliner, kerajinan hingga sejarah dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata tanpa kehilangan konteks dan keasliannya.
Ekonomi memastikan kegiatan tersebut memberikan nilai bagi masyarakat. Lapangan kerja, keterlibatan pemasok lokal dan perputaran uang di sekitar destinasi menjadi indikator penting.
Costa Rica, misalnya, melalui Certification for Sustainable Tourism (CST), secara eksplisit mendorong penggunaan sumber daya secara efisien, partisipasi komunitas lokal dan peningkatan daya saing sektor pariwisata.
Tiga unsur berikutnya memperluas pengalaman. Edukasi membuat wisatawan memahami apa yang mereka lihat. Estetika menghadirkan kualitas ruang dan pengalaman visual tanpa mengorbankan karakter alam.
Etika mengatur bagaimana wisatawan berperilaku terhadap lingkungan, satwa dan masyarakat. Sementara Entertainment memastikan pengalaman tetap menyenangkan sehingga pesan keberlanjutan tidak terasa seperti kewajiban semata.
Dengan demikian, aktivitas wisata seperti berjalan di hutan, menginap, bermain di alam atau mengikuti kegiatan budaya dapat memiliki fungsi yang lebih luas: rekreasi sekaligus pembelajaran dan konservasi.
Pendekatan tersebut kemudian terlihat dalam pengembangan salah satu ekowisata di Bogor, Jawa Barat. Perubahan identitas sebagai bagian dari upaya memperjelas arah pengembangan destinasi sebagai kawasan ekowisata.
“Eiger Nature merupakan bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dari alam, budaya, dan manusia. Perubahan ini bukan sekadar tentang nama, tetapi tentang komitmen kami untuk membangun ekowisata yang dapat menjadi berkat bagi pengunjung, alam, budaya, dan masyarakat,” ujar Direktur Utama Eiger Nature, Imanuel Wirajaya.
Load more