Analisis Psikiater soal Surat Wasiat Anak SD di NTT: Alami Stres yang Luar Biasa
- Istimewa
tvOnenews.com - Anak SD di NTT menjadi sorotan dalam Analisis Psikiater terkait Surat Wasiat Anak SD di NTT yang ditinggalkan untuk sang ibu, karena korban disebut mengalami stres yang luar biasa.
Kasus tragis yang menimpa seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) menyisakan duka mendalam bagi banyak pihak.
Perhatian publik tertuju pada surat wasiat yang ditinggalkan korban untuk ibunya, yang kemudian mendapat tinjauan psikologis dari psikiater dr. Mintarsih Abdul Latief.
Disclaimer, Peringatan (trigger warning): Artikel ini mengandung konten kekerasan eksplisit yang dapat memicu kondisi emosi dan mental pembaca. Kami menyarankan Anda tidak meneruskan membacanya jika mengalami kecemasan dan mempertimbangkan untuk meminta bantuan profesional.
Surat Wasiat Anak SD di NTT untuk Sang Ibu
Korban berinisial YBR, siswa kelas IV di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026). Dalam proses evakuasi, polisi menemukan sepucuk surat yang berisi pesan terakhir untuk sang ibu.
Surat tersebut ditulis menggunakan bahasa ibunya. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, isinya sebagai berikut:
Surat buat Mama
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis atau mencari saya
Selamat tinggal Mama
Selain tulisan yang memilukan, surat itu juga disertai gambar anak laki-laki yang diduga menggambarkan dirinya sendiri dengan air mata menetes.
Kasi Humas Polres Ngada Ipda Benediktus R. Pissort membenarkan surat “wasiat” itu ditulis langsung oleh korban.
Analisis Psikiater: Stres yang Luar Biasa dan Kehilangan Harapan
Psikiater dr. Mintarsih Abdul Latief memberikan tinjauan psikologis mengenai fenomena tragis tersebut. Dalam tayangan YouTube Cumicumi (5/2/2026), psikiater juga menyampaikan belasungkawa atas kejadian memilukan ini.
“Pertama saya ikut berbela sungkawa terhadap kejadian yang demikian tragis. Tapi karena anak yang baru umur umurnya masih begitu muda tapi sudah bunuh diri,” ujar psikiater.

Analisis Psikiater soal Surat Wasiat Anak SD di NTT. (Sumber: YouTube Cumicumi)
Psikiater menjelaskan, bunuh diri sering kali terjadi ketika seseorang merasa sudah tidak ada jalan keluar lagi dalam hidupnya.
“Sekarang kita lihat kenapa kalau peristiwa bunuh diri itu artinya orangnya berpendapat bahwa tidak ada jalan keluar lagi. Jadi kalau masih menganggap saya bisa berjuang, maka dia tidak sampai bunuh diri,” tutur psikiater.
Menurut psikiater, korban tampaknya menjadikan sekolah sebagai satu-satunya harapan untuk masa depan yang lebih baik.
“Tapi dalam hal ini sudah tidak ada harapan untuk berikutnya. Jadi rupanya sekolah itu dia jadikan harapan untuk nantinya bisa ya barangkali bisa hidup sebagaimana seharusnya,” kata psikiater.
Namun, tekanan ekonomi membuat harapan itu runtuh, hingga korban memandang hidupnya tidak lagi memiliki masa depan.
“Tapi sekarang kita lihat hanya dengan uang Rp10.000. Jadi itu kan sebetulnya tragis sekali 10.000 akhirnya dia tidak bisa melanjutkan sekolah. Karena tidak bisa melanjutkan sekolah, maka dia memutuskan untuk bunuh diri karena tidak ada harapan hidup. Itu prinsipnya. Prinsip tidak ada harapan untuk hidup lagi,” ucap psikiater.
Surat Wasiat sebagai Gambaran Kondisi Psikologis Anak
Psikiater juga menilai surat wasiat tersebut menunjukkan kondisi psikologis korban yang berada dalam tekanan sangat berat, bukan sekadar stres biasa.
“Jadi jelas dia dalam keadaan stres yang luar biasa. Tapi bukan hanya stres. Kalau hanya stres, maka tidak perlu dia bunuh diri. Tapi stres yang demikian beratnya sehingga tidak ada harapan lagi,” ujar psikiater.
Lebih lanjut, psikiater menambahkan bahwa korban memandang masa depannya sudah tertutup sepenuhnya.
“Jadi dia anggap ke depan itu sudah tidak ada harapan hidup lagi. Kalau sudah tidak ada harapan hidup maka dia lebih baik memutuskan untuk bunuh diri. Kemudian pamit ke ibunya supaya ibunya ya mungkin jangan terlalu sedih tapi tetap itu jalan keluar yang dia ambil,” tutur psikiater.
Peristiwa ini diketahui dipicu keterbatasan ekonomi keluarga untuk memenuhi kebutuhan alat tulis seharga Rp10 ribu.
Kasus tersebut juga mendapat perhatian pemerintah, termasuk Menteri Sosial Saifullah Yusuf yang menekankan pentingnya pendampingan dan data keluarga miskin ekstrem.
Tragedi Anak SD di NTT ini menjadi peringatan bahwa tekanan hidup dan keterbatasan ekonomi dapat berdampak serius pada kondisi psikologis, bahkan pada anak yang masih sangat muda.
Analisis psikiater menegaskan korban mengalami stres luar biasa hingga kehilangan harapan hidup, yang tercermin dalam surat wasiat terakhirnya untuk sang ibu.
(anf)
Load more