Setelah Kehilangan Benny Laos, Sherly Tjoanda Sempat Tak Ingin Menggantikan Suami Menjadi Gubernur Maluku Utara
- Kolase tvOnenews.com/Instagram @s_tjo
tvOnenews.com - Gubernur Maluku Utara (Malut), Sherly Tjoanda menjadi salah satu pejabat wanita yang kini menyita perhatian publik melalui kebijakan dan aksinya membangun Maluku Utara.
Kehadirannya selalu dinantikan oleh masyarakatnya agar dapat mensejahterakan Maluku Utara melalui kepemimpinan yang transparan, inovatif, dan mampu menjawab aspirasi masyarakat secara langsung.
Meski kini menjadi sosok yang dinantikan, siapa sangka Sherly Tjoanda sempat tidak memiliki keinginan untuk menjadi Gubernur Maluku Utara.
Melalui tayangan YouTube Akbar Faizal Uncensored, istri dari Mantan Bupati Morotai, Almarhum Benny Laos menceritakan alasan dirinya meneruskan perjuangan mendiang suaminya untuk menjadi Gubernur Maluku Utara.
- Antara
Awalnya Sherly Tjoanda menolak ajakan untuk menjadi Gubernur Maluku Utara. Ajakan itu datang saat ia masih berada di RSPAD setelah kecelakaan yang menewaskan Benny Laos.
Dirinya bertemu dengan Ketua Partai Gelora yang mengaku sudah berdiskusi dengan tim sukses bahwa Sherly yang harus meneruskan perjuangan ini.
Mendengar ajakan tersebut, ibu tiga anak ini menolak lantaran merasa dunia politik itu sangat patriarki.
“Saya bilang, saya nggak mau. Itu dunia yang sangat patriarki, sangat laki saya ini perempuan. Saya juga masih ingat di rumah sakit saya telepon Pak Wagub ‘Bapak pikir saja deh, saya sudah nggak mau ngurus ini lagi. Saya mau pulang melihat anak-anak saya’,” ungkap Sherly Tjoanda pada tayangan YouTube Akbar Faizal Uncensored.
“Saya telepon anak-anak saya, ‘Don’t worry, mommy bakal pulang and then mommy tidak akan kemana-mana lagi’,” sambungnya.
Setelah melalui proses kepulangan dari rumah sakit bersama jenazah Benny Laos, ia memutuskan untuk maju meneruskan perjuangan mendiang suami setelah beberapa hari kemudian.
“Setelah bertemu dengan para Sekjen dan perwakilan dari Ketua Umum 8 Partai bertemu dengan saya di RSPAD,” ujarnya.
“Keputusan saya final ketika saya berbicara dengan anak saya, ketiganya mendukung,” lanjutnya.
- Instagram/@s_tjo
Meski seluruh keluarga besar menentangnya, bahkan mereka menangis saat mendengar ingin maju meneruskan perjuangan Benny Laos sebagai Gubernur Malut.
Sebab, keluarganya takut kehilangan setelah meninggalnya Benny Laos.
“Saya juga ada rasa takut waktu itu, tetapi saya merasa saya butuh ini untuk good closer,” tegas Sherly.
Menurutnya, langkahnya untuk masuk ke dunia politik merupakan sebuah kecelakaan. Sehingga ia merasa bertanggung jawab atas mimpi dan harapan besar yang ingin diwujudkan oleh mendiang suaminya.
“Bagi saya, saya masuk di dunia politik ini bukan karena saya mau masuk dunia politik. Tetapi ini sebuah kecelakaan 12 Oktober, kemudian ada suatu perjuangan yang harus dilanjutkan karena saya, anak-anak, relawan, para partai politik yang waktu itu sedang berjuang tinggal 42 hari lagi. Kita menolak untuk kalah,” jelas Gubernur Malut itu.
“Kita menolak bahwa mimpi besar seorang Benny Laos yang kita kenal semua selesai begitu saja,” pungkasnya.
Kemudian, Sherly tergugah saat mendengar anaknya yang ingin ibunya melanjutkan cita-cita dan harapan ayahnya yang telah diperjuangkan.
Saat menang mendapatkan kursi Gubernur Maluku Utara, Sherly merasa bertanggung jawab untuk meneruskan janji politik Benny Laos kepada masyarakat.
(kmr)
Load more