5 Pantangan Bulan Suro yang Masih Dipercaya Masyarakat Jawa, Konon Bisa Datangkan Kesialan
- Ilustrasi AI/ChatGPT
tvOnenews.com - Bulan Suro menjadi salah satu periode yang paling sakral dalam tradisi masyarakat Jawa.
Bulan ini bertepatan dengan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah yang identik dengan refleksi diri, laku spiritual, dan berbagai ritual adat yang masih dijaga hingga kini.
Pada tahun 2026, malam 1 Suro bertepatan dengan malam pergantian tanggal menuju 16 Juni 2026, sementara 1 Suro 1959 Jawa jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026, bersamaan dengan 1 Muharram 1448 Hijriah.
Bagi sebagian masyarakat Jawa, bulan Suro bukanlah waktu yang tepat untuk menggelar perayaan besar.
Sebaliknya, bulan ini dianggap sebagai momen untuk menenangkan diri, berdoa, dan melakukan introspeksi.
Karena itu, terdapat sejumlah pantangan yang diwariskan secara turun-temurun dan masih dipercaya hingga sekarang.
Berikut lima larangan di bulan Suro yang dikenal dalam tradisi Jawa.
- Pexels/etienne-marais
1. Mengadakan Hajatan atau Pesta Besar
Salah satu pantangan yang paling populer adalah menggelar hajatan besar seperti pernikahan, khitanan, atau pesta keluarga.
Masyarakat Jawa tradisional meyakini bahwa bulan Suro merupakan bulan yang sakral sehingga kurang tepat digunakan untuk kegiatan yang bersifat hura-hura atau perayaan.
Bahkan, ada anggapan bahwa pernikahan yang dilangsungkan pada bulan ini berpotensi menghadapi berbagai ujian dalam rumah tangga.
2. Pindah Rumah atau Memulai Pembangunan
Banyak orang Jawa menghindari pindah rumah maupun memulai pembangunan bangunan saat bulan Suro.
Kepercayaan yang berkembang menyebutkan bahwa aktivitas tersebut dapat mendatangkan berbagai hambatan, mulai dari masalah kesehatan, kesulitan ekonomi, hingga gangguan yang bersifat spiritual.
Karena alasan itu, sebagian masyarakat memilih menunda rencana pindahan atau pembangunan hingga bulan berikutnya.
3. Melakukan Perjalanan Jauh
Bepergian jauh tanpa kebutuhan mendesak juga termasuk pantangan yang cukup dikenal.
Terutama pada malam 1 Suro, sebagian masyarakat percaya bahwa risiko terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan lebih besar dibanding hari biasa.
Oleh karena itu, banyak orang memilih tetap berada di rumah dan mengisi waktu dengan doa atau kegiatan spiritual.
4. Keluar Rumah pada Malam 1 Suro
Malam 1 Suro sering disebut sebagai malam yang wingit atau keramat.
Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, malam tersebut memiliki nuansa spiritual yang kuat.
Karena itu, keluar rumah tanpa keperluan penting dianggap kurang baik dan diyakini dapat mengundang marabahaya atau gangguan yang tidak kasatmata.
5. Bertengkar dan Berkata Kasar
Pantangan lainnya adalah mengeluarkan kata-kata kasar, memicu pertengkaran, atau membuat keributan.
Bulan Suro dipandang sebagai waktu untuk menahan diri dan membersihkan hati.
Karena itu, masyarakat Jawa diajarkan untuk menjaga ucapan, mengendalikan emosi, serta menghindari konflik agar terhindar dari dampak buruk yang dipercaya bisa muncul akibat perilaku tersebut.
Lebih dari Sekadar Mitos
Terlepas dari benar atau tidaknya berbagai kepercayaan tersebut, banyak kalangan menilai pantangan bulan Suro sebagai bentuk kearifan lokal yang mengajarkan kehati-hatian, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual.
Bagi masyarakat yang masih memegang teguh tradisi leluhur, bulan Suro bukan hanya pergantian waktu dalam kalender Jawa, melainkan momen penting untuk merenung, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Disclaimer: Kepercayaan mengenai pantangan bulan Suro merupakan bagian dari tradisi budaya yang berkembang di masyarakat Jawa. Setiap orang memiliki keyakinan dan pandangan yang berbeda dalam menyikapinya.
(gwn)
Load more