Shalat Tahajud Jangan Keliru Lagi, kalau Punya Niat seperti ini Sebaiknya Tidur agar Hajat Tak Mampet Kata Gus Baha
- Instagram/@gusbahaonline
tvOnenews.com - Pendakwah KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha mengingatkan agar pelaksanaan shalat Tahajud tidak mengalami kekeliruan.
Sebagai murid kesayangan Mbah Moen, Gus Baha berpendapat masih banyak orang yang punya hajat mengejar keutamaan dari shalat Tahajud.
Menurut Gus Baha, orang yang tidur pulas di malam hari lebih bernilai agar hajat tetap terkabulkan daripada keliru mengerjakan shalat Tahajud.
Gus Baha menerangkan tidur lebih baik dari shalat Tahajud hanya mengejar niat mengejar hajat dari pandangan Imam Ghazali.
"Kata Imam Ghazali timbang kita Tahajud untuk menuntut Allah, mending tidur saja," ungkap Gus Baha dalam suatu ceramahnya disadur dari kanal YouTube Santri Kebumian, Sabtu (7/12/2024).
- Istockphoto
Bahwasanya shalat Tahajud merupakan ibadah sunnah salah satu cara agar keinginan hajat seorang mukmin cepat diterima oleh Allah SWT.
Shalat Tahajud mengandung keutamaan sangat dahsyat segala hajat yang terhitung berat maupun ringan tidak ada perbandingannya karena sama-sama dikabulkan oleh-Nya.
Rasulullah SAW mendapat perintah sebaik-baiknya manusia mengerjakan shalat sunnah malam setelah ibadah wajibnya dijelaskan dalam Surat Asy Syarh Ayat 7-8, Allah SWT berfirman:
فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ, وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ ࣖ
Artinya: "Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah!." (QS. Asy Syarh, 94:7-8)
Adapun anjuran menunaikan shalat Tahajud dipaparkan langsung dari Surat Al Isra Ayat 79, Allah SWT berfirman:
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا
Artinya: "Pada sebagian malam lakukanlah shalat Tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al Isra, 17:79)
Surat At Tur 48-49 menjadi dalil Al Quran bahwa hajat dilantunkan pada waktu Tahajud dalam penglihatan-Nya, Allah SWT berfirman:
وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَاِنَّكَ بِاَعْيُنِنَا وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِيْنَ تَقُوْمُۙ, وَمِنَ الَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَاِدْبَارَ النُّجُوْمِ
Artinya: "Bersabarlah (Nabi Muhammad) menunggu ketetapan Tuhanmu karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami! Bertasbihlah seraya bertahmid (memuji) Tuhanmu ketika engkau bangun! Bertasbihlah kepada-Nya pada sebagian malam dan pada waktu terbenamnya bintang-bintang (waktu fajar)." (QS. At Tur, 52:48-49)
Dalam dalil ini, Gus Baha mengingatkan hajat tertolak jika shalat Tahajud hanya ingin memperoleh karunia dari Allah SWT.
"Bisa memiliki akibat dan setan berbisik 'lah tahunya kamu shalat Tahajud enggak selalu terijabah hajatnya," tutur Gus Baha.
Orang yang berharap hajat terkabul dari Tahajud, menurut Gus Baha, sebaiknya tidur diutamakan sebagai salah satu kegiatan mencari rahmat-Nya.
"Ada orang shalat Tahajud, terus obsesinya supaya hajatnya terkabul. Sementara yang tidur punya obsesinya menikmati rahmat Allah, dia bisa tidur," terang dia menjelaskan.
Anjuran tidur mendapat rahmat-Nyya telah menjadi penjelasan dalam dalil Al Quran dari Surat Al Qasas Ayat 73, Allah SWT berfirman:
وَمِنْ رَّحْمَتِهٖ جَعَلَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوْا فِيْهِ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Artinya: "Berkat rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang agar kamu beristirahat pada malam hari, agar kamu mencari sebagian karunia-Nya (pada siang hari), dan agar kamu bersyukur kepada-Nya." (QS. Al Qasas, 28:73)
Penceramah kondang asal Rembang ini menyarankan jika shalat Tahajud dijadikan tempat mengabulkan hajat bisa menyebabkan hadits riwayat dari Rasulullah SAW diragukan oleh mereka.
Hadits riwayat Rasulullah SAW yang menyebutkan doa pada waktu Tahajud sangat ampuh akan mendapat perspektif negatif bagi mereka yang punya hajat berlebihan.
Selain itu, mereka yang mengalami kekeliruan ini juga bisa menyebabkan putus asa. Bahkan berpotensi untuk menyalahkan janji dari Allah SWT.
"Jadi ulama itu mulai dulu sudah berpikir, banyak orang menjadikan Tahajud (atau) shalat malam media untuk hajatnya. Dan kalau gak kesampaian, ini putus asa. Menyalahkan kiainya dengan menuding ijazahnya enggak manjur dan macam-macam segala lah," tandasnya.
(hap)
Load more