Apakah Bunuh Diri Bisa Diampuni Allah? Ini Jawaban Buya Yahya
- Tangkapan Layar YouTube Al-Bahjah TV
tvOnenews.com - Jika seseorang mengakhiri hidupnya karena merasa tidak lagi sanggup menanggung penderitaan, bagaimana nasibnya di akhirat? Pertanyaan tersebut kerap muncul di tengah pembahasan mengenai hukum bunuh diri dalam Islam.
Dalam ajaran Islam, bunuh diri termasuk perbuatan yang diharamkan dan tergolong dosa besar. Namun, persoalan mengenai nasib seseorang di akhirat tetap berada dalam ketetapan dan kehendak Allah SWT. Sebab, Allah Maha Mengetahui kondisi, penderitaan, serta keadaan batin setiap hamba-Nya.
Trigger Warning: Artikel ini membahas bunuh diri, kematian, dan pandangan keagamaan mengenai nasib seseorang setelah meninggal karena bunuh diri. Pembahasan mungkin terasa sensitif atau memicu bagi sebagian pembaca.
- ANTARA
Dilansir dari kanal YouTube Buya Yahya, pendakwah asal Blitar tersebut menjelaskan bahwa bunuh diri merupakan salah satu dosa besar. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pelakunya tidak serta-merta dapat dipastikan tidak akan memperoleh ampunan Allah SWT.
"Bahkan sebagian mengatakan, 'orang bunuh diri sudah tidak punya iman, su'ul khatimah (akhir hidup yang buruk), sebagian mengatakan tidak ada surga,'" ungkap Buya Yahya.
" Tapi yang benar bunuh diri termasuk dosa besar yang bisa jadi diampuni oleh Allah, tapi ini dosa yang luar biasa, bunuh diri," ucapnya.
Buya Yahya kemudian mengingatkan adanya ancaman siksa bagi orang yang mengakhiri hidupnya dengan cara tertentu. Ia menyebutkan sebuah hadis yang menggambarkan bahwa seseorang yang melakukan bunuh diri dapat memperoleh siksa dengan cara yang berkaitan dengan tindakan yang dilakukannya.
"Barangsiapa yang bunuh dirinya sendiri di dunia, dengan apa pun, misalnya pisau. Maka akan disiksa di akhirat dengan hal demikian yang digunakan."
Menurut Buya Yahya, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai kondisi keimanan seseorang yang meninggal karena bunuh diri. Perbedaan tersebut berkaitan dengan apakah tindakan tersebut menunjukkan hilangnya iman atau tetap menyisakan keimanan dalam diri pelakunya.
"Bisa jadi karena waktu itu tidak ada iman sama sekali, makanya kenapa ikhtilaf (perbedaan pendapat) para ulama di sini, ada yang mengatakan bunuh diri tidak akan disholati, tidak boleh ini itu."
Namun, ia kemudian menjelaskan pandangan Imam Syafii yang mengajarkan agar seorang Muslim tetap berhusnuzan terhadap orang yang meninggal karena bunuh diri.
"Tapi menurut Imam Syafii, agar husnudzon, barangkali masih ada sisa iman di dalam hati, tapi yang lain para ulama mengatakan 'nggak ada iman sama sekali, wong dia nggak percaya Allah akan mencarikan solusi kok, buktinya dia bunuh diri.'"
"Maka mati adalah mati yang nggak ada iman, selamanya di neraka," lanjutnya, merujuk pada salah satu pendapat ulama yang dibahasnya.
Meski terdapat perbedaan pandangan tersebut, Buya Yahya kembali menekankan bahwa bunuh diri bukanlah tindakan yang boleh dianggap sebagai jalan keluar dari persoalan hidup. Ia mengingatkan agar pemahaman mengenai larangan tersebut ditanamkan sejak dini kepada anak-anak.
"Makanya ini yang kita harus tanamkan di hati anak-anak kita, termasuk minal kabair (dosa besar), dan sampai kapan pun itu akan disiksa."
Buya Yahya juga menjelaskan adanya pandangan ulama yang mengaitkan tindakan bunuh diri dengan kondisi keimanan seseorang pada saat itu. Menurut pandangan tersebut, seseorang yang masih memiliki iman seharusnya meyakini bahwa Allah SWT tetap memberikan jalan keluar atas persoalan yang dihadapinya.
"Apalagi jika benar-benar waktu bunuh diri, tercabutnya iman, karena mungkin, karena analisa para ulama bahwasanya bunuh diri tidak ada iman, kalau ada iman tidak akan bunuh diri, karena dia percaya Allah yang akan menyelesaikan masalahnya, dia seolah-olah tidak punya tuhan lagi, seolah-olah tidak ada yang mampu menyelesaikan masalahnya, makanya sebagian mengatakan batinnya sudah kafir, tidak ada iman dia."
Lebih lanjut, Buya Yahya membedakan antara kondisi seseorang secara lahiriah dan batiniah. Secara lahiriah, orang yang meninggal karena bunuh diri tetap dapat dipandang sebagai seorang Muslim apabila tidak melakukan perbuatan syirik.
- tangkapan layar YouTube Buya Yahya
" Tapi secara thohir (lahiriah), ia dianggap tidak menyekutukan Allah SWT, makanya ia dianggap sebagai mukmin muslim."
Ia kemudian kembali mengingatkan bahwa persoalan keimanan seseorang pada saat meninggal merupakan perkara yang tidak boleh dianggap remeh.
"Tapi secara batin, sudah tidak ada iman dia, makanya luar biasa nauduzbillah, namanya bunuh diri hati-hati, jangan main-main dengan bunuh, maka wahai para orang tua, ajarkan ilmu ini penting, supaya anak-anak kita tidak mengambil hal itu sebagai solusi," tutupnya.
Load more