Junaida Santi Tak Masuk Skuad Asian Games, Media Korea Soroti Masalah Gender Test
- FIVB
tvOnenews.com - MVP Proliga 2025 sekaligus salah satu pemain andalan voli putri Indonesia, Junaida Santi, menjadi sorotan setelah namanya tidak masuk dalam skuad Indonesia yang dipersiapkan untuk tampil di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Sebelumnya, Wakil Kepala Bidang Prestasi PP PBVSI, Loudry Maspaitella, mengungkapkan bahwa Junaida Santi menolak menjalani gender test yang menjadi salah satu persyaratan dalam kejuaraan Asia.
Padahal, Santi sempat menjadi salah satu talenta muda yang memberikan harapan baru bagi voli putri Indonesia. Pemain yang tampil impresif di level klub maupun tim nasional tersebut mulai mencuri perhatian berkat performanya di sejumlah kompetisi.
- Instagram @jpevolley
Puncaknya terjadi ketika Santi berhasil meraih gelar MVP Proliga 2025. Ia juga mendapat kesempatan memperkuat tim nasional voli putri Indonesia pada FIVB Women's U-21 World Championship 2025.
Dalam turnamen tersebut, performa Santi cukup mencolok. Namanya berhasil masuk dalam jajaran 10 besar pencetak poin terbanyak. Ia juga menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang masuk dalam daftar tersebut.
Namun, setelah tampil di FIVB Women's U-21 World Championship 2025, kiprah Santi seolah terhenti. Ia harus menepi dalam waktu cukup lama, bahkan hampir setahun, akibat cedera lutut.
Kini, absennya Santi dari Asian Games 2026 kembali menjadi perhatian. Media Korea turut menyoroti kabar bahwa pemain muda tersebut tidak dapat memperkuat Indonesia setelah diduga menolak menjalani gender test.
"Dilaporkan bahwa Junaida Santi, pemain voli putri berbakat yang dinobatkan sebagai MVP Proliga Indonesia 2025, tidak dapat berpartisipasi dalam turnamen internasional karena masalah verifikasi gender," tulis Xports News Korea.
Santi merupakan outside hitter kelahiran 2007 yang berhasil menggebrak Proliga 2025 ketika memperkuat Jakarta Pertamina Enduro. Saat itu, usianya baru 17 tahun.
Dalam 12 pertandingan musim reguler, Santi mengoleksi 181 poin yang berasal dari 156 serangan, 18 blok, dan tujuh ace. Catatan tersebut membuatnya menjadi pemain domestik Indonesia dengan perolehan poin tertinggi.
Jika dihitung sepanjang musim, Santi bahkan mampu mengumpulkan total 298 poin.
Performa apik tersebut berlanjut hingga babak final. Santi mencetak 12 poin ketika menghadapi Jakarta Popsivo Polwan. Torehan tersebut menjadi yang tertinggi kedua di timnya setelah mantan pemain tim nasional Amerika Serikat, Jordan Thompson, yang mengoleksi 15 poin.
Jakarta Pertamina Enduro kemudian memastikan kemenangan 3-0 sekaligus merebut gelar juara untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun. Santi pun melengkapi musim impresifnya dengan dinobatkan sebagai MVP turnamen.
Meski demikian, hingga kini Santi belum pernah tampil dalam kompetisi internasional bersama tim nasional senior Indonesia.
Indonesia sendiri dijadwalkan tampil pada pembukaan turnamen voli putri Asian Games Aichi-Nagoya 2026 pada tanggal 19. Namun, nama Santi tidak tercantum dalam daftar 12 pemain tim nasional putri yang diumumkan PBVSI pada tanggal 2 untuk menjalani persiapan menghadapi ajang tersebut.
Di tengah absennya Santi, pernyataan Loudry Maspaitella kembali menjadi sorotan. Ia menjelaskan bahwa persoalan yang dihadapi Santi berkaitan dengan gender test.
"Santi hanya memiliki satu masalah: tes gender," ujar Loudry, yang mengisyaratkan bahwa meski Santi tidak disebut mendapat sanksi disipliner, keengganannya menjalani pemeriksaan tersebut membuatnya tidak dapat mengikuti kompetisi internasional.
Loudry juga tidak menampik bahwa Santi memang mengalami cedera. Namun, menurutnya, terdapat persoalan lain yang turut menjadi kendala, yakni dugaan penolakan terhadap gender test.
“Santi ini cuma satu, gender tes. Bukan untuk Santi saja lho ya, seluruh pemain putri yang tampil di AVC itu harus gender test,“ tegas Loudry Maspaitella kepada YouTube Voli TV.
“Banyak isu cedera ya memang mungkin dia cederanya iya. Kita panggil dia di SEA Games dia nggak datang dengan alasan macam-macam ya nggak apa-apa,“ bebernya.
“Masalahnya gender tes itu bukan khusus untuk Santi, sekarang internasional itu gender tes itu saja,“ ungkap Loudry Maspaitella.
PBVSI sebelumnya disebut telah berupaya membantu Santi agar bersedia menjalani pemeriksaan tersebut. Salah satu langkah yang dilakukan federasi adalah melibatkan psikolog Ernita Pongky untuk melakukan pendekatan secara personal kepada sang pemain.
“Kita punya psikolog waktu itu Mbak Ernita Pongky salah satu pengurus kita sudah dalam pendekatan personal bawa ke Rumah Sakit Polri mau apa nggak?,“ ceritanya.
- Instagram @jpevolley
“Nggak berani. Oh dari yang pemainnya nggak mau. Tapi setidaknya dari federasi sudah turun tangan banget,“ lanjutnya.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi yang secara tegas menyatakan bahwa persoalan gender test menjadi alasan langsung Santi tidak masuk dalam skuad Indonesia untuk Asian Games 2026.
Situasi tersebut masih menjadi perhatian karena konfirmasi resmi mengenai penolakan Santi terhadap gender test berpotensi menimbulkan kontroversi yang lebih besar.
Pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Indonesia tergabung di Grup A sektor voli putri bersama tuan rumah Jepang dan Nepal.
Load more