- Gambar ilustrasi AI / Gemini
AI Bukan Cuma untuk Perusahaan Besar, UMKM Bisa Memakainya untuk Mengembangkan Bisnis
Namun, OECD mencatat sejumlah hambatan, antara lain kekhawatiran mengenai hak cipta dan aturan, keamanan informasi yang dimasukkan ke sistem AI, serta kurangnya kemampuan pengguna.
Karena itu, pelaku usaha perlu mempelajari cara memberikan instruksi yang jelas, memeriksa hasil, dan menghindari memasukkan data sensitif pelanggan ke layanan yang tidak dipahami kebijakan privasinya. AI juga tidak otomatis mengetahui keunggulan produk yang sebenarnya.
Pemilik usaha tetap harus memasukkan informasi yang akurat mengenai bahan, harga, cara penggunaan, dan karakteristik produknya.
Untuk produk herbal, kehati-hatian menjadi lebih penting. Konten promosi sebaiknya tidak menjanjikan penyembuhan penyakit atau menyatakan manfaat medis yang belum didukung bukti memadai. AI dapat membantu menyusun bahasa pemasaran, tetapi tidak dapat dijadikan sumber tunggal untuk memastikan keamanan maupun khasiat produk.
Dari Negara Maju, Pelajaran Penting bagi UMKM Indonesia
Pengalaman UMKM di negara maju menunjukkan bahwa penggunaan AI perlu diiringi peningkatan keterampilan. Dalam survei OECD, penggunaan teknologi ini berbeda antarnegara: sekitar 39% UMKM responden di Jerman menggunakannya, dibandingkan sekitar 24% di Jepang.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa penerapan AI dipengaruhi pula oleh karakteristik usaha, sektor, dan kesiapan digital.
Pelajaran yang relevan bagi UMKM Indonesia bukan sekadar mengikuti tren teknologi, melainkan memilih pekerjaan yang benar-benar terbantu oleh AI. Usaha rumahan bisa memulai dari kebutuhan sederhana, seperti menyusun ide konten mingguan, menulis deskripsi katalog, membuat rancangan kampanye promosi, atau menyiapkan jawaban atas pertanyaan pelanggan.
Hasilnya kemudian perlu dievaluasi menggunakan data usaha sendiri. Pemilik bisnis dapat membandingkan jumlah pertanyaan yang masuk, pesanan, pelanggan yang kembali membeli, serta biaya promosi sebelum dan sesudah strategi baru diterapkan.
Dengan begitu, keputusan tidak hanya berdasarkan kesan bahwa konten terlihat lebih menarik, tetapi juga pada perubahan yang bisa diukur.
AI pun tidak menggantikan kebutuhan akan pencatatan keuangan. Pelaku usaha tetap perlu mengetahui biaya bahan baku, kemasan, tenaga kerja, ongkos pengiriman, dan keuntungan bersih. Omzet yang meningkat belum tentu berarti laba ikut naik apabila biaya operasional juga bertambah.