- Gambar ilustrasi AI / Gemini
AI Bukan Cuma untuk Perusahaan Besar, UMKM Bisa Memakainya untuk Mengembangkan Bisnis
Belajar AI untuk Mengembangkan Bisnis UMKM
Melansir dari berbagai sumber, gambaran penerapan teknologi tersebut terlihat pada Ngatiyem, pelaku UMKM asal Ciawi, Kabupaten Bogor, yang mengembangkan jamu instan H’Dayah. Sebelum mengikuti program Inkubasi Mitra Inkubator GAN yang mendapat pelatihan dari Yayasan Indonesia Setara (YIS), ia memasarkan produknya melalui WhatsApp dan Instagram @jamu_instan_hidayah.
Namun, materi promosinya cenderung monoton dan penjualan sempat melemah. Melalui program inkubasi, ia mulai mempelajari penggunaan AI untuk membuat materi promosi yang lebih bervariasi. Ia juga belajar mengembangkan produk dan membiasakan diri mencatat keuangan secara mingguan.
“Alhamdulillah ada peningkatan omzet selama ikut inkubasi dan alhamdulillah bertambah reseller,” ujarnya. Ia menyebut omzet usahanya kini mencapai sekitar Rp1,5 juta per minggu, dengan dukungan penjualan produk tambahan. Angka tersebut merupakan keterangan yang disampaikan Ngatiyem, bukan bukti bahwa AI saja menjadi penyebab kenaikan omzet.
Usaha H’Dayah sendiri berawal dari kebiasaan meracik minuman herbal untuk suaminya yang bekerja dengan sistem tiga sif. Ia kemudian mengembangkan racikan itu menjadi usaha rumahan. Mengenai pengalaman kesehatan suaminya pada 2017,
Ngatiyem menuturkan bahwa ia meminta izin dokter untuk memberikan racikan kunyit putih dan jahe merah sebagai pendamping perawatan medis. Ia mengatakan suaminya pulih dalam waktu sekitar tiga bulan. Pengalaman pribadi tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa racikan herbal itu menyembuhkan penyakit atau menggantikan pengobatan dokter.
- ist
“Pelatihan ini memberikan saya banyak pengetahuan baru. Bukan hanya ide untuk mengembangkan produk, tetapi juga belajar memanfaatkan teknologi dalam promosi. Terpenting dalam pelatihan adalah jejaring dan membangun kebiasaan mengelola usaha secara lebih teratur,” ujarnya.
Founder Yayasan Indonesia Setara, Sandiaga Salahuddin Uno, menekankan pentingnya pendampingan agar pelaku UMKM mampu beradaptasi dan membangun usaha secara berkelanjutan.
“Yang kita kejar adalah dampak sosial dan pertumbuhan bersama. Pelaku UMKM perlu terus belajar, berinovasi, memanfaatkan potensi lokal, serta membangun jejaring dan kolaborasi,” ujar Sandiaga.
Pengalaman UMKM tersebut memperlihatkan bahwa penerapan AI dalam UMKM tidak harus dimulai dengan sistem yang rumit. Teknologi dapat menjadi alat bantu untuk membuat promosi lebih beragam, tetapi manfaatnya perlu ditopang keterampilan, evaluasi penjualan, pencatatan keuangan, dan pendampingan usaha.