news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Kapten Timnas Argentina, Lionel Messi.
Sumber :
  • REUTERS Carlos Barria

Ketika Kaki Kiri Messi Mencetak Revolusi: Sejarah, Filsafat, Seni dan Agama

Tidak mengherankan apabila figur-figur besar sepak bola Argentina perlahan menempati ruang simbolik yang biasanya hanya diberikan kepada tokoh-tokoh kebudayaan atau keagamaan.
Selasa, 4 Agustus 2026 - 19:37 WIB
Editor :

Hubungan semacam itu tidak dibangun hanya oleh statistik. Ia lahir dari pengalaman bersama yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Sepak Bola Menjadi Arena Pertarungan Kultural

Jika Durkheim membantu menjelaskan mengapa sepak bola memiliki dimensi yang menyerupai agama, maka Pierre Bourdieu membantu kita memahami mengapa olahraga dapat berubah menjadi arena kebudayaan.

Dalam esainya How Can One Be a Sports Fan? (1978) dan kemudian dalam The Logic of Practice (1990), Bourdieu menjelaskan bahwa olahraga tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terhubung dengan struktur sosial, kelas, pendidikan, ekonomi, politik, hingga kebudayaan yang melingkupinya.

Sepak bola, dengan demikian, bukan sekadar permainan. Ia adalah arena (field), tempat berbagai bentuk modal—ekonomi, budaya, simbolik, maupun sosial—saling berinteraksi dan diperebutkan.

Seorang pemain tidak hanya membawa kemampuan teknis. Ia juga membawa sejarah keluarganya, lingkungan tempat ia tumbuh, nilai-nilai yang membentuknya, serta kebudayaan yang diwariskan kepadanya sejak kecil.

Messi merupakan contoh yang sangat jelas mengenai hal itu. Ia lahir di Rosario, kota yang telah lama hidup bersama sepak bola. Dan kebetulan adalah nama yang sama dengan benda sakral yang dikalungkan para pemeluk Katolik. Messi tumbuh di tengah masyarakat yang memandang permainan ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari identitas nasional. Ketika kemudian hijrah ke Barcelona, ia tidak kehilangan akar kebudayaannya. Sebaliknya, ia mempertemukan tradisi sepak bola Argentina yang penuh spontanitas dengan disiplin taktis Eropa yang sangat rasional.

Dari perjumpaan dua tradisi itulah lahir seorang pemain yang mampu menggabungkan intuisi dengan metodologi, improvisasi dengan organisasi, seni dengan ilmu pengetahuan.

Karena itu, keberhasilan Messi tidak dapat dijelaskan hanya melalui bakat. Ia adalah hasil dari pertemuan panjang antara manusia, sejarah, pendidikan sepak bola, kebudayaan, dan waktu.

Mengapa Messi The One and Only?

Pertanyaan ini sering terdengar sederhana. Namun, jawabannya jauh lebih rumit daripada sekadar menyebut bakat.
Lionel Messi hanya lahir sekali bukan karena dunia kehabisan pemain berbakat. Sepak bola akan selalu melahirkan talenta-talenta besar. Akan selalu ada pemain yang lebih cepat, lebih kuat, lebih tinggi, atau lebih atletis.

Berita Terkait

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
12
13 14 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:09
25:30
06:26
01:30
02:16
00:56

Viral