- REUTERS Carlos Barria
Ketika Kaki Kiri Messi Mencetak Revolusi: Sejarah, Filsafat, Seni dan Agama
Seolah-olah Messi tidak bermain di waktu yang sama dengan pemain lain. Ia selalu lebih dahulu melihat kemungkinan. Apa yang bagi pemain lain masih berupa kekosongan, bagi Messi telah menjadi jalur operan atau ruang tembak. Karena itu, banyak orang menganggap Messi seperti memiliki naluri yang nyaris profetik. Bukan dalam arti mampu meramal masa depan, melainkan karena ia membaca permainan lebih cepat daripada siapa pun di lapangan.
Pep Guardiola pernah mengungkapkan hal itu dalam dokumenter Manchester City: Together: Champions Again! (2022). “Do you know why Messi is the best player I've ever seen? Because he is a competitor. He's an animal. Messi passes the ball and goes in like a machine. He smells the goal.”
Ungkapan “he smells the goal” bukan sekadar pujian hiperbolik. Guardiola sedang menjelaskan bahwa Messi memiliki intuisi yang tidak dapat sepenuhnya diajarkan melalui latihan. Ia mengetahui ke mana bola akan datang bahkan sebelum orang lain menyadarinya.
La Pulga juga merupakan pemain dengan distribusi bola yang luar biasa. Akurasi umpannya, kemampuan mengatur tempo, serta kecerdasan membaca pergerakan rekan setim membuatnya sanggup memainkan hampir seluruh fungsi kreatif di lapangan.
Dalam banyak kesempatan, ia bahkan memperlihatkan kualitas sebagai seorang playmaker yang tidak kalah mengesankan dibandingkan Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Paul Scholes, ataupun Andrea Pirlo. Di sinilah letak keistimewaannya. Messi tidak sekadar menjalankan sistem Tiki-Taka. Ia menyempurnakannya.
Apollo dan Dionysos di Kaki Kiri Messi
Untuk memahami posisi Messi dalam sejarah sepak bola modern, filsafat Friedrich Nietzsche menawarkan sebuah lensa yang menarik. Dalam The Birth of Tragedy (1872), Nietzsche menjelaskan bahwa kebudayaan Yunani bertumpu pada dua kekuatan yang saling melengkapi: Apollonian dan Dionysian.
Apollo melambangkan keteraturan. Ia adalah simbol bentuk, rasionalitas, keseimbangan, proporsi, serta harmoni. Sebaliknya, Dionysos merupakan simbol gairah, spontanitas, keberanian, kekacauan kreatif, dan ledakan daya hidup yang menolak dibatasi oleh aturan-aturan yang mapan.
Kedua kekuatan itu tidak saling meniadakan. Justru dari ketegangan di antara keduanya lahirlah karya-karya agung. Sepak bola Barcelona era Guardiola adalah representasi yang sangat jelas dari semangat Apollonian.
Seluruh permainan dibangun melalui struktur yang nyaris matematis. Jarak antarpemain diperhitungkan. Ruang dikendalikan. Tempo diatur. Penguasaan bola menjadi prinsip utama. Setiap pemain memahami fungsi kolektifnya. Tiki-Taka, dengan demikian, bukan hanya strategi bermain. Ia merupakan sebuah tata bahasa sepak bola yang menjunjung tinggi keteraturan.