news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Kapten Timnas Argentina, Lionel Messi.
Sumber :
  • REUTERS Carlos Barria

Ketika Kaki Kiri Messi Mencetak Revolusi: Sejarah, Filsafat, Seni dan Agama

Tidak mengherankan apabila figur-figur besar sepak bola Argentina perlahan menempati ruang simbolik yang biasanya hanya diberikan kepada tokoh-tokoh kebudayaan atau keagamaan.
Selasa, 4 Agustus 2026 - 19:37 WIB
Editor :

Memang taktik ini cukup kental perspektif struktur sosialisnya. Mengapa? Karena posisi asli dari pemain hampir melebur dalam pertandingan.  Bek bisa menjadi pemain sayap. Gelandang tengah bisa menjadi second striker. Dan striker utama bisa menjadi “fake / shadow striker”. Semua melebur. Dan satu-satunya “dictator proletariat” adalah Pep yang berdiri di pinggir lapangan, yang selalu mengawasi.

Memang hubungan Cruyff, Pep dan Messi memiliki dialektika historisnya tersendiri. Hubungan ketiga figur (yang berbeda era itu Pep sebagai figur transisi) melampaui ikatan pelatih dan pemain. Mungkin analogi hubungan yang tepat adalah seperti Hegel (lewat The Phenomenology of Spirit-nya), Marx (lewat Das Capital-nya) dan Che Guevara. Cruyff sebagai fondasi filsafatnya. Pep sebagai peramu dari berbagai disiplin filsafat dengan “Das Tiki-Taka-nya”. Serta Messi menjadi figur “Che Guevara” yang membawa panji revolusi di panggung drama “90 menit” itu. 

Pelekatan Che Guevara sebagai analogi Messi jelas tepat. Setidaknya dalam empat alasan. Pertama Messi dan Che lahir di kota yang sama. Yakni Rosario Argentina. Kedua hubungannya ke Marx dan Hegel serta Guardiola dan Cruyff adalah satu garis ideologi. Ketiga, Messi dan Che adalah simbol revolusi yang berhasil pada visinya masing-masing. Dan keempat jika Che berhasil menjelajahi Amerika Latin dalam The Motorcycle Diaries (1993). Messi telah berhasil mengeksploitasi setiap jengkal lapangan hijau itu. Plus menamatkan sepak bola. Sanad (hubungan) mereka tak terbantahkan.

Dengan berhimpunnya ketiga figur itu, Tiki-Taka menjadi mesin yang membuat lawan, sebagai pesepak bola professional, menjadi teralienasi (terasing). Keterasingan lawan membuat mereka seperti pemain amatir yang baru belajar bermain si kulit bundar itu. 

Di kaki kiri Messi, sebagai kaki terkuatnya, yang paling penting bukanlah bagaimana mencetak gol. Tetapi ide tersebut di “breakdown” dengan struktur yang sangat rapi. Dengan tujuan, bagaimana bola digiring dengan dialektika historis taktik. Dan mematerialisasikan ruang dan peluang. Sehingga tesis individual dan “antitesis” taktik berpadu menjadi sintesis gol paling mematikan di kaki kiri Messi.

Berita Terkait

1 2
3
4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:09
25:30
06:26
01:30
02:16
00:56

Viral