news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

ilustrasi rupiah.
Sumber :
  • tvOnenews.com/Wildan M.

Rupiah Menguat ke Rp17.938 per Dolar AS, Lesunya Investasi Domestik Dinilai Bisa Memperlambat Pertumbuhan Ekonomi RI

Rupiah menguat ke Rp17.938 per dolar AS. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat pada perdagangan Selasa, 21 Juli 2026. 
Selasa, 21 Juli 2026 - 09:34 WIB
Reporter:
Editor :

Misalnya, di sektor manufaktur, industri makanan dan minuman, tekstil, elektronik hingga ekonomi digital memiliki potensi besar untuk memperluas kesempatan kerja sekaligus memperkuat daya beli masyarakat.

Di sisi lain, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi, penyederhanaan perizinan, kemudahan berusaha dan kepastian regulasi menjadi faktor penting untuk meningkatkan kualitas investasi yang masuk.

"Mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp17.940-Rp18.000," terangnya. 

Sebagai informasi, Iran dan AS saling melancarkan serangkaian serangan selama akhir pekan dengan Komando Pusat AS menyatakan telah melancarkan lebih banyak serangan terhadap Iran pada Minggu (19/7/2026) malam waktu setempat.

Serangan baru ini terjadi setelah serangan Iran terhadap pangkalan AS di Yordania yang menewaskan sedikitnya dua tentara AS dan melukai banyak lainnya.

Militer AS terlihat menyerang berbagai target yang lebih luas di Iran, sementara Iran juga meningkatkan serangannya terhadap negara-negara Teluk di sekitarnya. 

Pertempuran masih tetap berfokus pada kendali Selat Hormuz dimana Komando Pusat AS menyatakan bahwa serangan terbarunya bertujuan untuk terus melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal di Hormuz.

Kembalinya pertempuran yang memanas ini merupakan permusuhan terburuk AS-Iran sejak sebelum gencatan senjata April 2026 lalu dengan pembicaraan damai antara kedua pihak tampaknya telah sepenuhnya gagal. 

Sebagian besar pengiriman melalui Hormuz masih terganggu dan kembali ke sebagian kecil dari tingkat sebelum perang.

Hal ini membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak lebih lanjut dan memperhitungkan premi risiko yang lebih besar pada komoditas tersebut. (Mohammad Yudha Prasetya/VIVA/nsi)

 
 
 

Berita Terkait

1
2
Tampilkan Semua

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:28
02:23
01:37
04:43
04:30
05:26

Viral