- Istimewa
Mengapa Memuliakan Anak Yatim Begitu Istimewa? Simak 7 Keutamaannya
Jakarta, tvOnenews.com - Dalam ajaran Islam, terdapat amalan-amalan istimewa yang menjadi sumber keberkahan luar biasa karena dijanjikan langsung oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Salah satu ibadah yang paling utama adalah memberikan kasih sayang, penghormatan, dan perhatian kepada anak yatim.
Melakukan hal ini dengan hati yang tulus bukan sekadar kebaikan sosial, melainkan jalan mulia untuk meraih rida-Nya.
Hal ini bukan sekadar tindakan sosial, melainkan investasi akhirat yang akan mendatangkan hikmah dan pahala yang luar biasa bagi siapa saja yang melakukannya.
Berikut 7 keutamaan memuliakan anak yatim:
Pertama, Jaminan Surga dari Allah Swt
Bagi mereka yang mengemban amanah memelihara anak yatim, Allah telah menjanjikan ganjaran tertinggi, yakni surga.
Kasih sayang yang diberikan kepada anak yatim adalah amalan terpuji yang sangat dicintai oleh Allah.
Rasulullah Saw bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Ibnu Abbas:
“Orang yang memelihara anak yatim di kalangan umat muslimin, memberikannya makan dan minum, pasti Allah akan memasukkan ke dalam surga, kecuali ia melakukan dosa yang tidak bisa diampuni.”
Perlu diingat, dosa yang tidak diampuni di sini adalah perbuatan syirik atau menyekutukan Allah.
Oleh karena itu, integritas iman tetap menjadi pondasi utama dalam meraih janji surga ini.
Kedua, Kedekatan yang Sangat Istimewa dengan Rasulullah Saw
Sebagai umat yang mencintai Rasulullah, tentu menjadi impian terbesar untuk bisa berdampingan dengan beliau di surga kelak. Peluang ini terbuka lebar bagi siapa saja yang mengasuh anak yatim di dunia.
Rasulullah Saw mengisyaratkan kedekatan tersebut melalui hadis riwayat Bukhari:
“Saya dan orang yang mengasuh atau memelihara anak yatim akan berada di surga begini,” kemudian beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah dan merenggangkannya sedikit.
Jarak jari telunjuk dan jari tengah melambangkan kedekatan yang luar biasa, seolah-olah tidak ada sekat antara pengasuh anak yatim dan Rasulullah di tempat peristirahatan terakhir yang abadi nanti.
Ketiga, Jaminan Pertolongan Allah di Dunia dan Akhirat
Menolong anak yatim adalah kunci untuk membuka pintu pertolongan Allah.
Ketika kita meringankan beban, memberikan ilmu, atau menyantuni anak yatim, kita sejatinya sedang menolong sesama mukmin.
Rasulullah Saw dalam hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah menegaskan:
“Barangsiapa yang menghilangkan kesusahan orang mukmin di dunia maka Allah akan menghilangkan kesusahannya di dunia dan akhirat, Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.”
Bagi setiap muslim yang mendambakan kemudahan hidup, baik di dunia maupun saat menghadapi hari perhitungan di akhirat, maka bantulah anak yatim dengan keikhlasan.
Keempat, Dapat Gelar “Abror” bagi Orang yang Berbuat Kebajikan
Allah Swt memberikan gelar kehormatan Abror (orang-orang yang berbuat kebajikan/saleh) kepada mereka yang menyantuni anak yatim.
Hal ini tertuang dalam firman Allah yang menunjukkan betapa mulianya orang yang memberi karena Allah:
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.”(QS Al-Insan: 8 Sebagai balasannya, Allah menjanjikan kemuliaan bagi mereka:
“Sungguh, orang-orang yang berbuat kebajikan (abrar) akan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur.”(QS Al-Insan: 5)
Ayat ini merupakan janji nyata bagi mereka yang memuliakan anak yatim, bahwa kelak mereka akan menikmati balasan surga yang penuh kenikmatan.
Kelima, Meraih Pahala Berlipat melalui Amar Ma’ruf
Memuliakan anak yatim adalah bentuk nyata dari amar ma’ruf nahi mungkar. Dengan menyantuni anak yatim, kita sedang mengajak diri sendiri dan orang lain untuk mengerjakan kebaikan.
Rasulullah Saw bersabda (HR Muslim, Tirmidzi, dan Abu Dawud):
“Siapa saja yang menyeru kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya itu.”
Setiap kebaikan yang kita tanam melalui pengurusan anak yatim akan kembali kepada kita dalam bentuk pahala yang berlipat ganda.
Keenam, Ladang Amal Jariah yang Tidak Terputus
Salah satu dari tiga perkara yang pahalanya tidak terputus setelah manusia meninggal dunia adalah doa dari anak saleh.
Ketika seseorang memelihara dan mengasuh anak yatim, ia berperan layaknya orang tua.
Rasulullah SAW bersabda (HR Muslim dari Abu Hurairah):
“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang selalu mendoakannya.”
Menjadi “orang tua” bagi anak yatim berarti membuka pintu aliran pahala yang akan terus mengalir melalui doa-doa mereka hingga akhir hayat.
Ketujuh, Perisai dari Siksa Neraka yang Pedih
Siksaan neraka adalah sesuatu yang sangat ditakuti oleh setiap mukmin. Memelihara anak yatim dengan penuh kasih sayang dan kelembutan adalah pelindung yang tangguh di hari kiamat.
Rasulullah Saw bersumpah (HR Thabrani dari Abu Hurairah):
“Demi Yang mengutusku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa pada hari kiamat nanti orang yang menyayangi anak yatim, lemah lembut pembicaraan dengannya, menyayangi keyatiman dan kelemahannya.”
Sering kali kita berpikir bahwa menyantuni anak yatim hanya soal materi atau uang.
Namun, tujuh kemuliaan tersebut mengingatkan bahwa menyantuni bisa dilakukan dengan memberikan ilmu, mencurahkan tenaga, hingga sekadar memberikan perhatian dan kasih sayang yang tulus.
Mari ulurkan tangan dan sisihkan rezeki kita untuk anak yatim melalui digital.dompetdhuafa.org/donasi/bestianyatim. (dpi)