news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Hot News: Dedi Mulyadi Pakai Teknik Sun Tzu untuk Negosiasi, Tolak Rp10 Juta PKL Cicadas Minta Ganti Miliaran, Wargi Bandung Heboh Lihat Wajah Baru Trotoar Cicadas.
Sumber :
  • Kolase tim tvOnenews

Hot News: Dedi Mulyadi Pakai Teknik Sun Tzu untuk Negosiasi, Tolak Rp10 Juta PKL Cicadas Minta Ganti Miliaran, Wargi Bandung Heboh Lihat Wajah Baru Trotoar Cicadas

Hot news hari ini, mulai dari polemik penertiban PKL Cicadas, reaksi wargi Bandung usai trotoar Cicadas dibersihkan, hingga strategi negosiasi unik ala Sun Tzu
Jumat, 22 Mei 2026 - 18:51 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Tiga berita terpopuler yang jadi hot news hari ini, mulai dari polemik penertiban PKL Cicadas, reaksi wargi Bandung usai trotoar Cicadas dibersihkan, hingga strategi negosiasi unik ala “Sun Tzu” yang digunakan Dedi Mulyadi saat menghadapi pedagang kaki lima.

Sorotan terbesar datang dari penataan kawasan Cicadas, Bandung Timur. Kawasan yang selama puluhan tahun dikenal semrawut karena dipenuhi lapak PKL kini mulai berubah wajah setelah dilakukan penertiban trotoar. 

Namun proses tersebut memicu gelombang protes dari sebagian pedagang yang merasa kehilangan mata pencaharian.

Di sisi lain, publik juga dibuat penasaran dengan cara Dedi Mulyadi menghadapi konflik sosial itu. Alih-alih memakai pendekatan keras, KDM justru menawarkan solusi yang dianggap nyeleneh namun efektif, yakni mengajak PKL menjadi petugas kebersihan dengan penghasilan tetap. Strategi itu langsung memancing perdebatan sekaligus dukungan luas dari masyarakat.

1. PKL Cicadas Tolak Rp10 Juta, Minta Ganti Rugi Miliaran

Penertiban PKL di kawasan Cicadas menjadi berita paling panas hari ini. Sejumlah pedagang yang lapaknya dibongkar mengaku kecewa dan menolak kompensasi Rp10 juta yang ditawarkan pemerintah. Bahkan, beberapa pedagang meminta ganti rugi hingga miliaran rupiah.

Video protes para PKL viral di media sosial setelah diunggah akun TikTok @spirit.id. Dalam video itu, para pedagang menganggap pembongkaran dilakukan tanpa memberikan solusi ekonomi yang cukup bagi mereka.

Menanggapi polemik tersebut, Dedi Mulyadi memilih merespons dengan tenang. Ia bahkan mengaku memahami kemarahan para pedagang.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi dan Para PKL Cicadas
Sumber :
  • instagram Dedimulyadi71

“Dan saya sampaikan buat bapak dan ibu, saya mengucapkan terima kasih atas kemarahannya,” ujar Dedi Mulyadi melalui Instagram pribadinya.

Menurutnya, menjadi pemimpin memang tidak mungkin selalu menyenangkan semua pihak. Ia menegaskan penertiban dilakukan demi mengembalikan fungsi trotoar sebagai hak pejalan kaki.

“Memang pedagang kaki lima itu perlu hidup karena perlu membiayai keluarga, tetapi trotoar bukan untuk pedagang, trotoar untuk berjalan kaki,” tegasnya.

KDM juga menjelaskan bahwa secara aturan pemerintah sebenarnya tidak memiliki kewajiban hukum memberikan kompensasi kepada pedagang yang menggunakan fasilitas umum. Meski demikian, bantuan tetap diberikan atas dasar pertimbangan kemanusiaan dan ekonomi.

“Tapi kalau saya harus memberi miliar-miliar, enggak mungkin juga karena kemampuan keuangan kita kan tidak mungkin ngasih bantuan bermiliar-miliar pada orang-orang,” katanya.

Penertiban tersebut dilakukan sebagai bagian dari program penataan kota dan mendukung proyek Bus Rapid Transit (BRT) Bandung.

2. Wargi Bandung Heboh, Cicadas Kini Disebut Lebih “Bengras”

Di tengah kemarahan sebagian PKL, banyak warga Bandung justru mendukung langkah penataan yang dilakukan pemerintah. Dukungan itu membanjiri unggahan Instagram Dedi Mulyadi saat memperlihatkan video proses pembersihan kawasan Cicadas.

“Tak masalah walau dimarah-marahi. Terpenting, Cicadas bengras,” tulis Dedi Mulyadi dalam unggahannya, Jumat (22/5/2026).

Reaksi Wargi Bandung Usai KDM Lakukan Penertiban PKL Cicadas Yang Ngamuk Ratusan Orang, yang Bahagia Riibuan Warga Bandung!
Sumber :
  • instagram Dedimulyadi71

Video tersebut langsung ramai dikomentari warga. Banyak yang menilai kawasan Cicadas kini terlihat lebih lega, bersih, dan nyaman dibanding sebelumnya.

Salah satu komentar yang viral datang dari warga yang berharap Bandung Timur bisa ditata seindah Braga dan Asia Afrika.

“Pak mohon buatlah Cicadas seindah Braga, karena Bandung bukan hanya Asia Afrika, Braga, Dago, Riau yang estetik,” tulis seorang warganet.

Komentar lain juga menyebut perubahan di Cicadas sebagai sesuatu yang sudah lama dinantikan masyarakat.

“Setelah berapa puluh tahun ini? Alhamdulillah, tos ditata, tinggal dijaga, dirawat,” tulis akun lainnya.

Bahkan ada komentar yang menyebut, “Yang ngamuk ratusan orang, tapi yang bahagia ribuan orang melihat kebersihan Cicadas.”

Respons publik ini menunjukkan bahwa penataan ruang kota sering kali memunculkan dua sisi berbeda. Di satu sisi ada kelompok yang terdampak secara ekonomi, namun di sisi lain banyak warga menginginkan ruang publik yang lebih tertib dan nyaman.

3. Strategi ‘Sun Tzu’ Dedi Mulyadi: PKL Ditawari Jadi Petugas Kebersihan

Selain polemik pembongkaran, strategi negosiasi Dedi Mulyadi juga ikut menjadi sorotan. Sebelum penertiban dilakukan, KDM ternyata lebih dulu berdialog langsung dengan para PKL.

Dedi Mulyadi Sampai Gunakan Teknik 'Sun Tzu' Sebelum Tertibkan PKL Cicadas Berikanlah Tawaran yang Tidak Bisa Ditolak!
Sumber :
  • instagram Dedimulyadi71

Dalam unggahan Instagram pribadinya, Dedi menulis pesan bernada filosofi.

“Teknik NEGOSIASI; Berikanlah tawaran yang tidak bisa ditolak. Sun Tzu berkata ‘Menangkanlah peperangan tanpa harus melalui pertempuran’,” tulisnya.

Salah satu pedagang yang diajak berbicara adalah Hartoyo atau Abah Hartoyo, penjual kopi dan rokok yang sudah berjualan selama 23 tahun di Pasar Cicadas.

Kepada pedagang tersebut, Dedi menawarkan pekerjaan baru sebagai petugas kebersihan kawasan dengan penghasilan harian lebih pasti.

“Yang asalnya dagang rokok dapat Rp40 ribu, jadi tukang sapu dapat Rp130 ribu. Kota jadi bersih, rakyat dapat kerja,” ujar Dedi.

Tawaran itu langsung diterima Hartoyo.

“Mau Pak, siap,” jawabnya singkat.

Pendekatan ini dinilai berbeda dibanding pola penertiban konvensional yang biasanya hanya berfokus pada pembongkaran. Dalam banyak kasus tata kota modern, pendekatan persuasif dianggap lebih efektif karena pemerintah tidak hanya memindahkan masalah, tetapi juga menawarkan solusi ekonomi bagi warga terdampak.

Kasus Cicadas kini menjadi contoh bagaimana penataan kota di Indonesia tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut persoalan sosial, ekonomi, dan komunikasi publik. (udn)
 

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

03:47
02:02
05:02
04:25
04:34
06:21

Viral