- Gambar ilustrasi AI
Kemenkes Ungkap Tanda-Tanda Child Grooming yang Sering Diabaikan, Begini Modus Pelaku Menjebak Korban hingga Sulit Melawan
tvOnenews.com - Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi pada saat yang sama juga membuka peluang munculnya berbagai bentuk kejahatan baru.
Salah satunya adalah grooming, yaitu proses manipulasi psikologis yang dilakukan pelaku untuk memperoleh kepercayaan korban sebelum melakukan eksploitasi, kekerasan, atau pengendalian.
Berbeda dengan tindak kekerasan yang dilakukan secara terang-terangan, grooming berlangsung perlahan sehingga sering kali tidak disadari oleh korban maupun orang-orang di sekitarnya.
Fenomena ini bukan hanya menjadi perhatian di Indonesia. Di berbagai negara maju seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Australia, aparat penegak hukum telah menangani ribuan kasus grooming yang bermula dari media sosial, aplikasi percakapan, hingga gim daring.
National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC) di Inggris menyebut internet telah menjadi salah satu sarana utama pelaku untuk membangun kedekatan emosional dengan anak maupun remaja.
Sementara Federal Bureau of Investigation (FBI) di Amerika Serikat berkali-kali mengingatkan orang tua agar mewaspadai predator seksual yang menyamar sebagai teman sebaya di media sosial dan platform permainan daring.
Di Indonesia, perhatian terhadap grooming kembali menguat setelah mencuatnya kasus penyekapan seorang perempuan selama tiga tahun di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa grooming tidak hanya menyasar anak-anak, tetapi juga dapat menimpa orang dewasa melalui manipulasi emosional yang berlangsung dalam waktu lama.
Menyikapi fenomena itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk memahami tanda-tanda grooming, memberikan pendampingan psikologis kepada korban, serta berani melaporkan dugaan kekerasan sebelum dampaknya semakin berat.
Kemenkes: Grooming Adalah Manipulasi yang Dilakukan Secara Bertahap
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa grooming bukan sekadar sikap romantis, perhatian berlebihan, atau rayuan biasa.
"Grooming bukan sekadar rayuan manis atau perhatian berlebihan. Ia adalah strategi yang sistematis, pelaku mendekati korban dengan sikap penuh perhatian, hadiah, atau janji-janji yang membuat korban merasa istimewa," kata Imran, melansir dari Antara.
Menurutnya, setelah kepercayaan korban terbentuk, pelaku mulai membangun kontrol terhadap kehidupan korban. Korban perlahan dijauhkan dari keluarga, teman, maupun lingkungan sosial sehingga hanya bergantung kepada pelaku.