- Gambar ilustrasi AI
Kemenkes Ungkap Tanda-Tanda Child Grooming yang Sering Diabaikan, Begini Modus Pelaku Menjebak Korban hingga Sulit Melawan
Imran menjelaskan bahwa manipulasi dilakukan secara bertahap. Korban diminta menyimpan rahasia, ditanamkan rasa bersalah ketika mencoba menolak, hingga akhirnya kehilangan keberanian untuk melawan.
"Trauma psikologis membuat mereka kehilangan keberanian. Ketergantungan emosional menjadikan pelaku seolah satu-satunya sumber dukungan."
Ia menegaskan bahwa pola tersebut dapat terjadi pada siapa saja.
Pada anak-anak, grooming umumnya berujung pada eksploitasi seksual. Sementara pada orang dewasa, manipulasi dapat berkembang menjadi penguasaan emosional, eksploitasi finansial, kekerasan dalam hubungan, hingga penyekapan seperti yang terjadi dalam kasus di Bandung.
Fenomena serupa juga ditemukan di berbagai negara. Di Inggris, laporan NSPCC menunjukkan ribuan kasus online grooming dilaporkan setiap tahun, dengan mayoritas pelaku memanfaatkan media sosial, ruang obrolan daring, dan permainan online untuk mendekati korban.
Di Amerika Serikat, National Center for Missing & Exploited Children (NCMEC) menerima jutaan laporan dugaan eksploitasi seksual anak secara daring setiap tahun melalui CyberTipline, termasuk kasus yang diawali proses grooming.
Kenali Tanda-Tanda Grooming Sebelum Terlambat
Menurut Kemenkes, pelaku grooming biasanya memiliki pola perilaku yang hampir sama.
Pada tahap awal, mereka menunjukkan perhatian yang tampak tulus melalui pujian, hadiah, atau sikap sangat peduli terhadap korban. Setelah hubungan semakin dekat, pelaku mulai menciptakan "rahasia bersama" dan meminta korban merahasiakan hubungan tersebut dari keluarga maupun teman.
Selanjutnya, pelaku berusaha mengendalikan kehidupan korban dengan membatasi pergaulan, mengatur aktivitas sehari-hari, hingga membuat korban merasa hanya dirinya yang dapat dipercaya.
Imran mengatakan, ketergantungan emosional dibangun sedikit demi sedikit sehingga korban merasa berutang budi dan tidak mampu hidup tanpa pelaku.
"Ketika korban mulai ragu, pelaku menggunakan rasa bersalah dan ancaman, memaksa korban percaya bahwa menolak berarti menghancurkan kepercayaan atau akan berakibat buruk."
Secara umum, tanda-tanda grooming meliputi:
* Memberikan perhatian, pujian, atau hadiah secara berlebihan.
* Mengajak korban berkomunikasi secara pribadi melalui media sosial atau aplikasi pesan.
* Meminta korban merahasiakan hubungan tersebut.
* Menjauhkan korban dari keluarga dan teman.
* Mengendalikan aktivitas sehari-hari korban.
* Menormalisasi perilaku yang melanggar batas secara bertahap.
* Menggunakan ancaman atau manipulasi emosional apabila korban mulai menolak.