Hadiri Open House di Cikeas, Pengamat Nilai Upaya Relasasi Antara Anies Baswedan dan Partai Demokrat
- Sri Cahyani Putri/tvOne
Jakarta, tvOnenews.com - Direktur Eksekutif Constellation Strategic (Constra) Indonesia, Habibi Chaniago menilai kedatangan Anies Baswedan dalam open house yang digelar Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai bentuk menjaga positioning politik untuk perhelatan Pilpres mendatang.
Menurutnya Demokrat yang kini dipimpin Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dinilai bersikap hati-hati menjaga maksud tersembunyi dari kedatangan Anies Baswedan.
Ia menilai dinamika hubungan politik antara Anies Baswedan dan AHY tidak bisa dilepaskan dari sejarah kegagalan koalisi pada Pilpres 2024.
Awalnya, Partai Demokrat bersama Partai NasDem dan PKS membentuk Koalisi Perubahan untuk Persatuan dan bahkan mendorong AHY sebagai calon wakil presiden.
- Istimewa
Namun keputusan Anies memilih Muhaimin Iskandar secara sepihak menimbulkan kekecewaan mendalam bagi Demokrat sehingga menarik dukungan dan keluar dari koalisi.
“Momen Anies memilih Muhaimin Iskandar sebagai calon wakil presiden memicu kekecewaan bagi Demokrat, kemudian menarik dukungan dan keluar dari Koalisi Perubahan untuk Persatuan,” kata Habibi kepada awak media, Jakarta, Senin (30/3/2026).
"Hal itu bukan hanya sekadar pilihan politik, tetapi juga menciptakan defisit kepercayaan (trust deficit) yang terus membayangi kedua belah pihak," sambungnya.
Kehadiran Anies di Cikeas disebut Habibi memiliki makna simbolik sebagai upaya membuka kembali komunikasi yang sempat retak.
Dengan kata lain hal tersebut merupakan fase normalisasi hubungan, namun belum sampai pada tahapan rekonsiliasi strategis.
“Anies pada momen ini sedang membangun kembali posisi politiknya sehingga ia perlu menjaga relasi dengan partai-partai strategis melalui soft repositioning agar tetap eksis di peta politik nasional,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam perpolitikan Indonesia, Cikeas sering dianggap sebagai pusat pengambilan keputusan informal Demokrat sekaligus simbol restu politik keluarga SBY.
Menurut Habibi, kedatangan Anies dalam halal bihalal di Cikeas juga merupakan upaya menjaga loyalitas sebagian basis pendukungnya serta mencegah fragmentasi koalisi lama.
"Dalam kultur politik Indonesia, legitimasi dari tokoh senior merupakan hal penting. Pertemuan dengan SBY dilihat sebagai upaya mencari dukungan moral dan politik sehingga Anies dapat memperkuat citra sebagai figur nasional lintas generasi,” ucapblnya.
Lebih lanjut, Habibi menilai kunjungan tersebut mengirimkan sinyal kepada publik bahwa Anies tetap aktif dan memiliki jaringan elite, sekaligus kepada lawan politik bahwa ia belum keluar dari arena.
“Ini merupakan political signaling tanpa deklarasi terbuka,” tegas Habibi.
Di sisi lain, kata Habibi, Demokrat saat ini sedang berhati-hati agar tidak kembali terjebak pada skenario politik yang merugikan seperti 2024.
Sikap Demokrat yang menegaskan sudah memiliki koalisi sendiri dikemukakan Habibi juga menunjukkan bahwa mereka ingin menjaga posisi tawar dan tidak terburu-buru mengunci pilihan politik.
“Posisi Demokrat menandakan sedang berhati-hati agar tidak terjebak kembali pada skenario yang merugikan seperti Pilpres 2024,” tambahnya.
Diketahui juru bicara Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra menegaskan SBY dan AHY tidak membahas koalisi dengan mantan calon presiden Anies Baswedan saat halal bihalal di Cikeas, Jawa Barat.
Habibi menilai pernyataan tersebut harus dibaca sebagai bentuk pengendalian jarak politik.
Habibi menuturkan ke depan menuju Pilpres 2029 kondisi ini membuka dua kemungkinan besar.
Pertama, jika rekonsiliasi terjadi, maka Anies dan Demokrat dapat kembali membangun poros alternatif yang lebih matang dengan belajar dari pengalaman sebelumnya.
Kedua, jika trauma politik 2024 masih dominan, Demokrat kemungkinan memilih jalur sendiri atau tetap berkoalisi dengan Prabowo Subianto sehingga Anies harus mencari kendaraan politik lain.
"Hubungan ini masih bersifat fluid coalition, cair penuh peluang, namun sarat ketidakpastia yang akan sangat ditentukan oleh kepentingan elektoral, eskalasi politik, dan momentum menuju kontestasi 2029," pungkasnya.(raa)
Load more