Viral Siswa SMAN 1 Gorontalo Jadi Korban Pengeroyokan 20 Teman dan Senior, Berawal dari Persoalan Sepele?
- ist
tvOnenews.com - Lingkungan sekolah semestinya menjadi tempat siswa belajar, membangun pertemanan, dan mengembangkan diri dengan aman. Namun, sebuah video yang memperlihatkan aksi kekerasan terhadap siswa SMA di Gorontalo justru memunculkan kekhawatiran tentang keselamatan pelajar di lingkungan pendidikan.
Rekaman yang beredar di media sosial itu memperlihatkan seorang siswa berseragam putih abu-abu dikerumuni sejumlah pelajar lain.
Insiden tersebut terjadi di lingkungan SMA Negeri 1 Kota Gorontalo saat jam istirahat, dengan seorang siswa kelas X menjadi korban. Peristiwa ini kemudian menyita perhatian publik karena melibatkan banyak siswa dari tingkat kelas berbeda.
Kasus tersebut menjadi sorotan setelah terungkap bahwa pengeroyokan diduga dipicu persoalan ketersinggungan antara korban dan kakak kelasnya.
Jumlah siswa yang diduga terlibat mencapai puluhan orang jika dihitung bersama korban. Di tengah beredarnya video tersebut, pihak sekolah memberikan penjelasan mengenai kronologi awal, sementara keluarga korban menempuh jalur hukum.
Kronologi Pengeroyokan Siswa SMAN 1 Gorontalo Berawal dari Permintaan Sumbangan
Peristiwa pengeroyokan itu terjadi pada Senin (19/10/2026), sekitar pukul 12.15 Wita, di aula lapangan SMA Negeri 1 Gorontalo, Jalan MT Haryono, Kelurahan Ipilo, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo.
Saat itu, Nurdin Dali, siswa kelas X, sedang berkeliling kelas untuk meminta sumbangan bagi tim voli sekolah. Pengumpulan dana tersebut dilakukan melalui mekanisme pembayaran QRIS senilai Rp1.
Pembina OSIS SMA Negeri 1 Gorontalo, Suryono J. Paris, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya pengumpulan sumbangan untuk mendukung tim olahraga sekolah.
“Saat itu jalan kelas-kelas ada menyampaikan kegiatan permintaan sumbangan tim volleyball melalui QRIS satu rupiah itu,” ujar Suryono, Kamis (22/10/2026).
Masalah muncul ketika korban mendatangi kelas yang di dalamnya terdapat seorang siswa kelas XII. Senior tersebut diduga merasa tersinggung setelah menganggap tatapan korban sebagai sikap yang merendahkan.
“Ada kakak kelas 12 terduga pelaku sempat bicara sama dia, melihat ditatap dan tersinggung dengan korban,” beber Suryono.
Situasi kemudian berkembang menjadi adu mulut. Ketika korban keluar kelas, sejumlah siswa lain yang diduga merupakan teman senior tersebut ikut mendatangi korban. Perselisihan itu berujung pada tindakan pemukulan di area sekolah.
Load more