Terungkap! Siswa SD Bunuh Diri di NTT Ternyata Terdaftar PIP tapi Tak Bisa Cair, Bupati Ngada: KTP Orang Tua Bukan Warga Sini
- tim tvOne - Kabar Siang
Jakarta, tvOnenews.com - Siswa SD bunuh diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) ternyata terdaftar sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP). Bahkan, sebelum ditemukan tewas gantung diri, korban sempat menanyakan kapan manfaat PIP dikirim kepada orang tuanya.
Sebagai informasi, PIP adalah bantuan tunai pendidikan untuk peserta didik usia 6-21 tahun yang berasal dari keluarga miskin/rentan miskin, pemegang Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), atau peserta PKH.
"Dia sempat tanya ke mamanya kapan PIP dicairkan. Orangtuanya bilang 'Nanti saya ke kabupaten untuk mencairkan itu'"," kata Bupati Ngada, Raimundus Bena, Kamis (5/2/2026).
Namun saat dicek, ternyata KTP orangtua korban tidak terdaftar sebagai warga Ngada. Ia pun disuruh kembali dan meminta surat keterangan penduduk desa.
"Mungkin kelalaian mamanya ini sibuk ya, besoknya korban tanya lagi ke mamanya. Dijawab 'oke nanti baru saya akan urus sesegera mungkin ya'", ujar Raimundus.
Dia menambahkan, seiring berjalannya waktu, korban merasa kebutuhannya tidak terpenuhi karena tidak adanya PIP. Ia pun memilih tidak berangkat ke sekolah dan pergi kebun.
"Sesaat sebelum meninggal itu sempat bertemu beberapa petani. Tapi pada akhirnya orang ketiga yang bertemu itu sudah ditemukan meninggal gantung diri," terang Raimundus.
Dia menjelaskan, pemerintah telah memberikan dana pendidikan berupa PIP versi pusat dan versi daerah. Bagi siswa yang tidak mendapat PIP versi pusat, akan diakomodir oleh daerah.
"Saya mengalokasikan 1000 lebih siswa mendapatkan itu termasuk pakaian seragam ya," ujar dia.
Dalam kasus siswa bunuh diri ini, lanjut Raimundus, yang bermasalah adalah KTP orangtua korban yang terdaftar sebagai warga kabupten tetangga.
"Kemungkinan besar di dalam mengakomodir berkaitan dengan hal ini kemungkinan besar terhambat ya. Hanya ibunya, neneknya, omanya itu KTP-nya Kabupaten Ngada," terang dia.
Seperti diketahui, peristiwa memilukan ini terjadi di sebuah pohon cengkeh tak jauh dari pondok sederhana tempat korban tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun, di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu.
Dalam proses olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga kuat ditulis korban sebelum mengakhiri hidupnya.
Surat tersebut ditujukan kepada sang ibu dan ditulis dalam bahasa daerah Ngada. Isinya berpamitan dan meminta sang ibu tidak menangis, disertai gambar kecil bergambar wajah menangis.
Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus E. Pissort, membenarkan temuan surat tersebut.
“Berdasarkan pencocokan dengan tulisan korban di buku-buku sekolahnya, penyidik menemukan kecocokan. Surat itu diduga ditulis oleh korban,” ujarnya.
Salah satu saksi, Kornelis Dopo (59), menuturkan sekitar pukul 11.00 WITA ia hendak mengikat kerbau di sekitar pondok nenek korban. Dari kejauhan, ia melihat korban sudah dalam kondisi tergantung.
Kornelis kemudian berlari ke jalan sambil berteriak meminta pertolongan. Warga berdatangan dan melaporkan kejadian tersebut ke polisi. (nba)
Load more