Momen Wamen HAM Terjebak di Tengah Konflik Timur Tengah, Jalani Ramadan di Bawah Ancaman Rudal
- tvOnenews - Rika Pangesti
“Ini pertama kalinya saya melihat rudal secara langsung. Walaupun dulu tahun 2001 saya pernah meliput konflik bersenjata di Aceh, tapi melihat rudal di udara seperti ini rasanya berbeda,” ungkapnya.
Bahkan saat masih berada di dalam pesawat hingga hari-hari pertama di Doha, Mugiyanto mengaku seperti tidak percaya bahwa dirinya benar-benar berada di tengah situasi konflik bersenjata.
“Waktu di pesawat sampai di Doha itu saya seperti tidak percaya ini nyata. Saya berharap ini tidak nyata, berharap ini segera selesai, segera damai,” katanya.
Di tengah suasana Ramadan itu, ia hanya memiliki berharap sederhana. Ia ingin konflik itu segera berakhir agar semua orang bisa kembali ke rumah dan merayakan Idulfitri bersama keluarga.
“Sebentar lagi kan Lebaran. Saya berharap semuanya bisa segera damai, supaya saya dan semua orang bisa merayakan Lebaran di rumah bersama keluarga,” ujarnya.
Namun hari-hari berikutnya di Doha diwarnai suasana yang jauh dari kata tenang.
Dari balkon Wisma Indonesia, ia melihat bagaimana rudal meluncur sebelum akhirnya meledak setelah dicegat sistem pertahanan udara Qatar.
Di tengah situasi yang mencekam itu, Mugiyanto tetap menjalankan ibadah puasa dan tugas negara.
Ia memantau pekerjaan kementerian di Jakarta melalui pertemuan daring, sekaligus memastikan warga negara Indonesia yang terdampar di Doha dalam kondisi aman.
*Terdampar bersama Ratusan WNI*
Ada sekitar 214 warga Indonesia tercatat mengalami kondisi serupa, dari total sekitar 8.000 penumpang internasional yang tertahan di Qatar akibat konflik tersebut.
Meski sempat mendapat opsi keluar dari Doha melalui jalur darat menuju Arab Saudi, Mugiyanto memilih tetap bertahan di Wisma bersama WNI.
Ia merasa harus berada di sana bersama warga Indonesia yang mengalami situasi yang sama.
“Saya merasa lebih baik di Doha bersama dengan warga negara Indonesia yang berada di sana. Saya sebagai perwakilan pemerintah juga harus hadir membersamai mereka,” ujarnya.
Hampir 10 hari Mugiyanto menjalani hari-hari di Doha dalam situasi penuh ketidakpastian.
Baru pada 10 Maret ia berhasil mendapatkan tiket penerbangan dari Doha menuju Manila sebelum akhirnya kembali ke Indonesia sehari kemudian.
Load more