Asa Mencium Hajar Aswad di Sudut Ka'bah
- Istimewa
Beberapa hari kemudian, secercah harapan muncul.
Kasie MCH Daerah Kerja Mekah, Khoeron, mengabarkan bahwa Daker Mekah akan mengadakan pertemuan dengan pimpinan askar Masjidil Haram.
“Semoga ini menjadi jalan untuk bisa mencium Hajar Aswad,” gumam saya dalam hati.
Sejak kegagalan itu, tekad saya tidak pernah luntur. Cerita seorang alumni MCH tahun 2012 yang pernah berhasil mencium Hajar Aswad dengan bantuan pengawalan askar membuat saya semakin optimistis.
Ketika akhirnya bertemu Brigadir Jenderal Yahya Mussa'id Azzahroni, pimpinan para askar, saya melihat secercah peluang.
Saat sesi tanya jawab dibuka, saya langsung mengangkat tangan.
Sebetulnya saya ingin meminta izin untuk mencium Hajar Aswad. Namun karena khawatir terdengar tidak sopan, saya mencoba memulai dengan pertanyaan lain.
“Mister Yahya, apakah kami diizinkan mengambil gambar di area thawaf dan sekitar Hajar Aswad?”
Beliau menjawab dalam bahasa Arab bahwa urusan perizinan pengambilan gambar bukan berada di bawah kewenangannya.
Saya mengangguk.
Tampaknya usaha lobi saya gagal.
Namun saya belum menyerah.
Kali ini saya meminta bantuan Kadaker Mekah, Arsyad Hidayat, untuk menyampaikan keinginan kami. Alhamdulillah, ketika permohonan itu disampaikan, Brigjen Yahya menganggukkan kepala.
“Ya, nanti akan ada askar bernama Abdullah yang mengantar kalian.”
Alhamdulillah.
Hati saya langsung berbunga-bunga.
Saya segera mencari Ahmad Zainal dan mengabarkan kabar gembira itu. Kami pun bergegas membereskan pekerjaan dan mengikuti rombongan yang dipimpin Abdullah menuju Masjidil Haram.
Kami berjalan melewati lorong-lorong masjid hingga tiba di area thawaf. Saat itu banyak jemaah sudah membentuk saf dan menunggu iqamah salat Zuhur.
Menariknya, setiap kali kami melewati pos penjagaan, para askar memberikan salam penghormatan.
“Bang, kita seperti rombongan presiden, ya?” canda saya kepada Zainal.
“Iya, Fik. Insya Allah hari ini kita bisa mencium Hajar Aswad,” jawabnya sambil tersenyum.
Tak lama kemudian kami diminta berbaris untuk mendapat giliran. Di barisan depan ada Kadaker Arsyad, Abu Haris, dan seorang petugas lainnya. Setelah itu Bang Zainal, lalu saya.
Satu per satu kami dipersilakan maju.
Load more