Membaca Kepemimpinan NU Menjelang Muktamar 2026
- dok.sosial media X
Ulama untuk Jam’iyah
Kiai Said Aqil adalah figur yang memandang bahwa ulama bukan hanya penjaga ilmu agama, tetapi juga penggerak organisasi, pemberdayaan masyarakat, dan penjaga keutuhan bangsa. Selama memimpin PBNU, beliau mengembangkan banyak sekali program dan wacana yang sungguh bermanfaat. Diantaranya penguatan Aswaja, Islam Nusantara, moderasi beragama, penguatan pesantren, dan diplomasi internasional NU.
Beliau juga menempatkan NU sebagai jam'iyah diniyyah ijtima'iyyah (organisasi keagamaan dan kemasyarakatan) yang memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan sosial, kebangsaan, dan kemanusiaan. Dalam perspektif Said Aqil, ulama harus hadir di tengah masyarakat sebagai pembimbing, pelayan umat, dan perekat bangsa. Pandangan ini konsisten dengan pemikirannya tentang pluralisme, aswaja, dan Islam Nusantara.
Sejalan dengan pemikiran Talcott Parsons tentang structural functionalism (The Social System-1951). Parsons menjelaskan bahwa setiap institusi sosial memiliki fungsi menjaga integrasi masyarakat. Sebagai pemimpin organisasi keagamaan, Said Aqil menjalankan fungsi integratif tersebut melalui NU sebagai wadah pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, dan penguatan persatuan bangsa.
Sebagai salah satu contoh nyatanya adalah, bahwa Kiai Said pernah membuat ucapan yang menohok, untuk mengajak rakyat menolak membayar pajak pada 2012. Hal ini dikarenakan banyak sekali kasus korupsi yang merajarela. Kurang lebih beliau mengatakan “jika uang pajak dikumpulkan hanya untuk dikorupsi, lebih baik rakyat tolak membayar pajak.”
Itulah yang dimaksud bahwa ulama untuk jam’iyah. Bukan sebaliknya.
Penutup, setelah uraian mengenai tema atau poin yang penulis bedah pada figur Buya Kiai Said, alangkah baiknya silakan para pembaca bandingan dengan figur yang lain. Apakah setara? Sebanding? Hemat penulis kiranya tidak ada karena bagaimanapun kapasitas dan kapabilitas figur Kiai Said, terletak bukan pada pangkat atau jabatan yang bersifat politik.
Tetapi pada keluasan ilmu, ketajaman berfikir, kelugasan ucapan, keberanian sikap, kerendahan hati, dan kedalaman adab. Kepantasan Kiai Said Aqil bukan karena sesuatu yang muncul dari luar. Tetapi dari pikiran dan hati. Itulah yang membuatnya menjadi pantas dalam memimpin NU. Teladan bagi umat dalam beragama dan berbangsa.
Load more