I.League Beri Peringatan Keras Jelang Musim Depan, Klub Super League yang Tak Main di Kota Sendiri Bisa Kena Pengurangan Poin
- tvOnenews.com - Ilham Giovanni
Jakarta, tvOnenews.com - I.League mulai memberi sinyal tegas kepada klub-klub Super League soal kewajiban bermain di stadion yang sesuai dengan administrasi dan lisensi klub. Aturan ini bisa menjadi perhatian serius bagi klub yang selama ini masih memakai stadion di luar wilayah domisili atau berpindah-pindah kandang.
Direktur Kompetisi I.League, Asep Saputra, menegaskan bahwa penggunaan stadion tidak bisa sekadar berdasarkan kesiapan venue semata. Menurutnya, ada aspek administratif, domisili klub, hingga pelaporan regional yang harus menjadi dasar sebelum klub memainkan laga kandang.
"Iya, ada kan dalam domisilinya itu, ada proses administrasi secara regional didaftarkan, ada domisili, ada kaitannya juga dengan lapor dengan Asprov setempat, maka itu menjadi landasan kita untuk klub memainkan stadion sesuai dengan yang didaftarkan di klub lisensi," kata Asep Saputra di Jakarta pada Rabu (13/5/2026).
Pernyataan itu menjawab pertanyaan soal kemungkinan PSM Makassar tetap bermain di Stadion Gelora B.J. Habibie, Parepare, atau harus kembali ke Makassar. Dalam beberapa musim terakhir, Juku Eja memang tidak bermain di Makassar.
- Instagram @psm_makassar
Asep tidak secara spesifik menyebut PSM harus pindah ke Makassar, tetapi ia menekankan bahwa stadion yang dipakai harus sesuai dengan yang didaftarkan dalam proses lisensi klub.
Manual Kompetisi 2025/2026 juga mengatur bahwa klub wajib memainkan pertandingan di stadion yang telah disetujui PSSI dan/atau I.League, serta mendaftarkan stadion utama dan alternatif.
Situasi ini membuat aturan kandang klub kembali menjadi sorotan, terutama bagi tim yang memiliki kendala infrastruktur di daerah asalnya. Salah satu contoh yang ikut dibahas adalah PSBS Biak, klub yang musim ini beberapa kali harus memainkan laga kandang jauh dari Biak.
Saat ditanya apakah klub asal Biak harus kembali bermain di daerah asalnya jika tetap berada di kasta tertinggi musim depan, Asep menjawab dengan tegas.
- Instagram - PSBS Biak
“Iya, dia harus pulang,” kata Asep.
Asep kemudian membuka kemungkinan adanya sanksi jika klub tidak mampu memenuhi kewajiban tersebut.
“Kalau pun tidak bisa, pasti kan ada sanksi,” ujarnya.
Sanksi yang dimaksud bukan sekadar teguran administratif, melainkan bisa berdampak langsung ke posisi klub di klasemen musim berikutnya. Asep menyebut ada potensi klub memulai kompetisi dengan pengurangan poin jika gagal memenuhi regulasi.
- tvOnenews.com - Ilham Giovanni
“Memulai kompetisi dengan poin minus. Bisa jadi. Potensi ya,” lanjutnya.
Kasus PSBS Biak menjadi semakin menarik karena klub tersebut juga tersangkut hasil club licensing I.League musim 2025/2026. Dalam laporan terbaru, PSBS disebut menjadi satu-satunya klub yang tidak lolos proses national licensing karena ada kriteria wajib yang tidak terpenuhi.
Asep sebelumnya juga menyebut klub yang gagal memenuhi ketentuan lisensi bisa mendapatkan konsekuensi berupa pengurangan poin. Namun, ia menegaskan masih ada fase banding sebelum sanksi tersebut benar-benar diterapkan.
Di sisi lain, aturan stadion ini tidak berarti I.League menutup mata terhadap kondisi darurat. Asep memberi contoh laga besar Persija Jakarta melawan Persib Bandung yang akhirnya dipindahkan ke Stadion Segiri, Samarinda.
- Instagram - Persija Jakarta
Laga Persija kontra Persib pada pekan ke-32 Super League 2025/2026 memang dipastikan I.League tidak dapat digelar di Jakarta sesuai rencana awal. Operator kompetisi kemudian menetapkan pertandingan tetap digelar pada 10 Mei 2026 di Stadion Segiri, Samarinda, dengan pertimbangan keamanan dan padatnya agenda nasional.
Ketika ditanya apakah laga Persija melawan Persib di Samarinda masuk kategori force majeure, Asep membenarkannya. Menurutnya, situasi saat itu tidak memungkinkan laga tetap dipaksakan di lokasi awal.
“Ya karena kalau enggak Force Majeure atau situasi memang tak terhindarkan,” lanjutnya.
Asep menjelaskan, perubahan venue dalam waktu sangat mepet tentu bukan kondisi ideal bagi operator kompetisi maupun klub. Namun, jika situasi di lapangan tidak memungkinkan, keputusan pemindahan venue menjadi jalan yang harus diambil.
“Tidak mungkin juga di sisa 4 hari kita baru pindah. Jadi itu juga salah satu yang juga fakta di lapangan,” tambahnya.
Dengan pernyataan tersebut, I.League tampak ingin membedakan antara kondisi darurat dan ketidakmampuan klub memenuhi kewajiban stadion sejak awal musim. Artinya, klub masih bisa mendapat toleransi jika ada keadaan tidak terhindarkan, tetapi tidak bisa terus-menerus menjadikan kendala stadion sebagai alasan.
Regulasi ini bisa menjadi alarm bagi klub-klub Super League maupun klub promosi musim depan. Selain harus membangun skuad yang kompetitif, klub juga wajib memastikan aspek lisensi, domisili, keamanan stadion, hingga izin penyelenggaraan pertandingan benar-benar beres.
Jika tidak, ancamannya bisa sangat berat karena menyentuh langsung perolehan poin di klasemen. Klub yang gagal memenuhi ketentuan bukan hanya terancam kehilangan keuntungan sebagai tuan rumah, tetapi juga bisa memulai musim dengan posisi tertinggal dari para pesaingnya. (fan)
Load more