Perang Timur Tengah Berdampak Pada Energi Dunia
Jakarta, tvOnenews.com - Pengamat energi Universitas Gadjah Mada, Prof. Tumiran, menilai Indonesia perlu segera menyiapkan langkah konkret untuk mengantisipasi dampak konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran terhadap ketahanan energi nasional.
Menurutnya, pemerintah perlu membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk menghemat energi sejak dini.
Ia menilai pemerintah perlu menyampaikan secara terbuka kondisi ketergantungan impor energi Indonesia, termasuk porsi pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Dengan keterbukaan tersebut, masyarakat dapat memahami urgensi penghematan energi sebagai langkah bersama menghadapi potensi gangguan pasokan.
Prof. Tumiran menyebut salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan mendorong transportasi umum di kota-kota besar.
Pengurangan konsumsi bahan bakar meski hanya 10 persen dinilai sudah berdampak signifikan terhadap penurunan impor energi.
Selain itu, pengurangan penggunaan LPG juga dinilai penting. Ia mendorong peralihan bertahap ke kompor listrik guna menekan ketergantungan impor LPG yang saat ini masih tinggi.
Langkah tersebut sekaligus dapat mendorong pertumbuhan industri domestik berbasis energi listrik.
Namun, ia menilai Indonesia belum siap melakukan peralihan energi secara mendadak. Karena itu, diperlukan strategi jangka pendek, menengah, dan panjang untuk memperkuat ketahanan energi nasional secara bertahap.
Prof. Tumiran juga mengingatkan kenaikan harga energi global akan berdampak luas terhadap sektor industri.
Biaya produksi listrik berpotensi meningkat, yang kemudian dapat memengaruhi tarif listrik atau beban subsidi negara.
Selain itu, kenaikan harga bahan bakar juga akan meningkatkan biaya transportasi dan distribusi barang.
Dampak lanjutan dapat dirasakan pada harga barang yang meningkat serta penurunan daya beli masyarakat.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional jika tidak diantisipasi dengan baik.
Ia juga menekankan pentingnya diversifikasi sumber impor energi serta peningkatan cadangan strategis nasional.
Selain itu, pemerintah didorong untuk mempercepat pengembangan kendaraan listrik dan energi bersih sebagai langkah jangka panjang mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor.
Menurutnya, konflik global saat ini seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat transformasi menuju kemandirian energi nasional serta pengembangan ekonomi berbasis energi bersih.