Kadin Dorong Pengusaha Lokal Genjot Produksi Telur untuk MBG, Bisa Butuh 480 Juta Butir per Bulan
- Antara
Menurutnya, mitra dari China diharapkan membawa teknologi peternakan modern untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi melalui pendekatan integrasi horizontal. Inisiatif ini telah dirancang sejak Rapimnas Kadin pada akhir 2024.
Pemanfaatan teknologi modern menjadi salah satu program prioritas Kadin Bidang Peternakan. Saat ini juga telah dibentuk Satuan Tugas (Satgas) Protein yang melibatkan Kementerian Koperasi, Kadin Indonesia, dan HKTI.
“Ini adalah dukungan nyata bagi UMKM peternak agar mampu memproduksi telur dengan efisiensi tinggi, standar kualitas internasional, dan harga yang kompetitif,” ujarnya.
Rencana kerja sama ini menargetkan investasi sekitar Rp1,4 triliun untuk pembangunan sektor hulu, termasuk breeding farm, pabrik pakan, dan fasilitas pengolahan telur di Provinsi Aceh. Program ini akan melibatkan peternak mandiri untuk membangun ekosistem industri peternakan yang terintegrasi secara horizontal.
“Kadin berharap inisiatif ini dapat direplikasi di berbagai daerah, sehingga terbentuk kedaulatan pangan di masing-masing wilayah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional,” jelas Cecep.
Saat ini, konsumsi telur per kapita di Indonesia masih tergolong lebih rendah dibandingkan Malaysia yang sudah melampaui satu butir per hari. Di Indonesia, konsumsi masih berada di bawah angka tersebut.
Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi telur nasional berada di kisaran 90–100 miliar butir per tahun. Namun, kapasitas tersebut telah terserap oleh kebutuhan rumah tangga, industri makanan, serta sektor hotel, restoran, dan kafe, sehingga tambahan permintaan dari program MBG berpotensi menekan rantai pasok.
Kadin menilai tantangan tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga pada efisiensi distribusi dan kualitas pasokan. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi seperti sistem kandang tertutup, otomatisasi pakan, hingga logistik berbasis cold chain dan digitalisasi distribusi menjadi sangat penting.
“Ini adalah strategi jangka panjang untuk memperkuat rantai pasok pangan nasional, bukan solusi instan melalui impor. Kami ingin memastikan peternak lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri dengan dukungan teknologi terbaik. Selain itu juga Kadin membidik pangsa pasar global khususnya pemenuhan kebutuhan telur untuk Singapura, yang saat ini Indonesia belum menjadi bagian pemasok utama telur ke negeri tetangga dekat ini,” terang Cecep.
Load more