BPS Beberkan Biang Kerok Sektor Tambang Minus 2,14 Persen di Awal 2026, Produksi Migas hingga Batu Bara Menurun
- istimewa - antaranews
Data ini menunjukkan bahwa perlambatan tidak hanya terjadi pada sektor tambang, tetapi juga merambah ke sektor jasa.
Gambaran PDB Indonesia Triwulan I 2026
Di tengah tekanan pada sejumlah sektor, BPS mencatat perekonomian Indonesia tetap menunjukkan pertumbuhan secara tahunan.
Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku (ADHB) pada triwulan I 2026 tercatat mencapai Rp6.187,2 triliun. Sementara itu, PDB atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp3.447,7 triliun.
Secara year-on-year (yoy), ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61 persen.
Sektor Akomodasi dan Konsumsi Pemerintah Jadi Penopang
Dari sisi produksi, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi yang paling menonjol dengan pertumbuhan mencapai 13,14 persen. Capaian ini menjadi yang tertinggi dibanding sektor lainnya.
Sementara dari sisi pengeluaran, komponen konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni sebesar 21,81 persen secara tahunan.
Kedua komponen ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah tekanan pada sektor pertambangan.
Ekonomi Secara Triwulanan Masih Terkontraksi
Meski tumbuh secara tahunan, perekonomian Indonesia secara triwulanan justru mengalami kontraksi. Pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia terkontraksi sebesar 0,77 persen dibandingkan triwulan IV 2025.
Dari sisi produksi, sektor pertambangan dan penggalian kembali menjadi penyumbang kontraksi terdalam dengan angka 8,20 persen.
Sementara dari sisi pengeluaran, komponen konsumsi pemerintah mencatat kontraksi paling dalam sebesar 30,13 persen.
Kondisi ini mencerminkan adanya perlambatan aktivitas ekonomi dalam jangka pendek, meskipun secara tahunan masih menunjukkan pertumbuhan positif. (ant/nsp)
Load more