Rupiah Ditutup Rp18.030 per Dolar AS, Defisit Dagang dan Perlambatan Ekonomi Bebani Pasar
- tvOnenews.com/Wildan M.
Jakarta, tvOnenews.com – Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada akhir perdagangan dan diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan berikutnya.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 27 poin sebelumnya sempat melemah 45 poin di level Rp18.030 dari penutupan sebelumnya di level Rp18.997,” kata Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulisnya, Selasa (4/8/2026).
Ia memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut. “Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp18.030-Rp18.080,” ujarnya.
Salah satu faktor yang membebani sentimen pasar berasal dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$450 juta pada Juni 2026.
Defisit tersebut terutama dipicu oleh sektor minyak dan gas (migas) yang mencatat defisit US$3,49 miliar, dengan komoditas hasil minyak dan minyak mentah menjadi penyumbang terbesar. Kondisi itu terjadi karena nilai ekspor Indonesia sebesar US$25,46 miliar masih berada di bawah nilai impor yang mencapai US$25,91 miliar pada periode yang sama.
Selain itu, pasar juga mencermati penurunan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 menjadi US$145 miliar. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Posisi cadangan devisa itu tercatat turun sekitar US$11 miliar dibandingkan posisi tertinggi pada akhir Desember 2025 yang mencapai US$156,5 miliar.
Meski demikian, Ibrahim menilai kondisi tersebut masih berada dalam batas aman karena cadangan devisa Indonesia masih mampu membiayai kebutuhan impor dalam jangka waktu yang memadai.
“Angka ini aman karena cadangan devisa ini masih mencukupi untuk kebutuhan 5,4 kali impor. Sementara itu, batasan yang menjadi benchmark internasional adalah kecukupan cadangan devisa untuk 3 bulan impor dan pembayaran utang,” jelasnya.
Di sisi lain, pelaku pasar juga mengambil posisi hati-hati menjelang rilis data produk domestik bruto (PDB) kuartal II-2026 yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu. Pasar memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi akan melambat dibandingkan capaian kuartal sebelumnya.
Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 berada di bawah 5,6 persen, namun masih mendekati 5,4 persen.
Menurut Ibrahim, perlambatan ekonomi dipengaruhi oleh sejumlah tekanan eksternal, mulai dari tingginya harga minyak mentah dunia, meningkatnya ketegangan geopolitik, hingga arus keluar modal (capital outflow) dari pasar keuangan domestik. (agr/rpi)
Load more