News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Minyak Dunia Tembus US$100 Bikin Rupiah Tertekan, Geopolitik Dunia Jadi Biang Kerok

Harga minyak mentah dunia melonjak signifikan pada perdagangan Kamis (10/9/2026) dengan harga Brent crude oil menembus level US$100 per barel.
Kamis, 10 September 2026 - 10:37 WIB
Ilustrasi Harga Minyak Dunia
Sumber :
  • Antara

Jakarta, tvOnenews.com - Harga minyak mentah dunia melonjak signifikan pada perdagangan Kamis (10/9/2026) dengan harga Brent crude oil menembus level US$100 per barel.

Kenaikan harga minyak tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan yang turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan selain Brent yang telah berada di atas US$100 per barel, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga telah menembus US$96 per barel dan berpotensi kembali naik hingga US$98 per barel.

“Hari ini ya kita melihat bahwa harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan yang cukup signifikan, terutama dalam Brent crude oil sudah di atas US$100 per barel,” kata Ibrahim saat dihubungi tvOnenews.com, Kamis (10/9/2026).

“Kemudian WTI crude oil pun juga sudah di atas US$96, bahkan kemungkinan akan mencapai di US$98 per barel,” sambungnya.

Menurut Ibrahim, lonjakan harga minyak tidak terlepas dari sejumlah faktor fundamental yang memperbesar gejolak di pasar global. Salah satu faktor utama yang menjadi sorotan adalah eskalasi konflik geopolitik, baik di Eropa Timur maupun Timur Tengah.

“Nah, apa yang membuat harga minyak mentah naik, kemudian rupiah pun juga dibuka melemah? Ada beberapa fundamental yang mempengaruhi gejolak yang membuat harga minyak mentah mengalami kenaikan, kemudian rupiah pun juga mengalami pelemahan,” ujarnya.

Ibrahim menjelaskan, di Eropa Timur, perang Rusia-Ukraina yang terus berlanjut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Serangan antara kedua negara masih terjadi, termasuk serangan terhadap infrastruktur yang berkaitan dengan produksi dan pengolahan minyak Rusia.

“Salah satunya adalah tentang masalah geopolitik, baik di Eropa Timur maupun di Timur Tengah yang terus terjadi. Kita lihat bahwa di Eropa Timur, Rusia dan Ukraina terus melakukan penyerangan,” kata dia.

“Rusia melakukan penyerangan terhadap kota-kota besar di Ukraina, kemudian Ukraina pun juga melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah Rusia,” lanjut Ibrahim.

Eskalasi tersebut, menurut Ibrahim, semakin memperbesar tekanan terhadap produksi minyak Rusia.

Serangan Ukraina terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia menjadi salah satu faktor yang mengurangi pasokan dan pada akhirnya memperketat pasar minyak dunia.

“Nah, sehingga apa? Membuat ketegangan yang begitu kuat, yang begitu besar. Di sinilah kilang-kilang minyak Rusia ini selalu dihantam oleh rudal-rudal Ukraina. Ini yang membuat produksi minyak di Rusia ini mengalami penurunan,” tuturnya.

Tekanan terhadap pasar energi juga datang dari kawasan Timur Tengah dan Laut Merah. Ibrahim menilai konflik yang meluas di kawasan tersebut meningkatkan risiko terhadap jalur perdagangan dan distribusi energi global.

“Kemudian di Timur Tengah sendiri, kita melihat bahwa bukan di Timur Tengah saja yang terjadi perang, tetapi di Laut Merah pun juga terjadi perang. Kita melihat bahwa saat ini ya Houthi Yaman terus melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah Arab Saudi,” katanya.

Menurut dia, perkembangan konflik tersebut menunjukkan semakin kompleksnya peta geopolitik di kawasan. Ibrahim bahkan menilai posisi kelompok Houthi Yaman dalam konflik kawasan semakin dominan.

“Artinya apa? Bahwa pasukan darat Yaman Houthi ini pun juga sudah merangsek berbatasan. Bahwa saat ini bukan lagi Arab Saudi yang adidaya, tetapi adalah Yaman Houthi yang adidaya. Ini kemungkinan besar apa di Afrika, Yaman ini akan lebih dominan dibandingkan dengan negara-negara lainnya,” ujarnya.

Selain Eropa Timur dan Laut Merah, risiko geopolitik juga meningkat di sekitar Selat Hormuz. Ibrahim menyebut eskalasi antara Iran dan Amerika Serikat di jalur strategis tersebut turut menjadi perhatian pasar minyak.

“Kemudian di Selat Hormuz sendiri, kita melihat bahwa pasukan Iran melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal perang Amerika yang kita tahu bahwa kapal-kapal perang terjadi kerusakan yang cukup signifikan. Nah, kemudian Amerika pun juga melakukan penyerangan,” katanya.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Karena itu, setiap eskalasi militer di kawasan tersebut berpotensi memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak global dan mendorong harga minyak semakin tinggi.

Ibrahim menilai kombinasi berbagai konflik tersebut menciptakan sentimen risiko yang kuat di pasar keuangan global.

Kenaikan harga minyak kemudian turut memberikan tekanan terhadap rupiah karena Indonesia masih memiliki kebutuhan impor minyak dan produk energi.

“Nah, ini yang membuat apa? Membuat harga minyak mentah mengalami kenaikan sehingga berdampak terhadap pelemahan mata uang rupiah,” pungkasnya. (agr/nsi)

 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Kalsel Dinyatakan Nihil Hotspot Karhutla, Pengendalian Kalbar dan Kalteng Diperkuat

Kalsel Dinyatakan Nihil Hotspot Karhutla, Pengendalian Kalbar dan Kalteng Diperkuat

Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama pada wilayah yang masih menunjukkan konsentrasi hotspot tinggi.
Head to Head Persija vs Persib: Maung Bandung Unggul dalam 4 Musim Terakhir

Head to Head Persija vs Persib: Maung Bandung Unggul dalam 4 Musim Terakhir

Maung Bandung masih unggul dalam head to head pertandingan Persija vs Persib di kompetisi resmi dalam empat musim terakhir atau sejak Liga 1 2021/2022 silam.
Saat Masih di Red Sparks, Megawati Hangestri Ternyata Punya 'Ritual' Unik Usai Pertandingan

Saat Masih di Red Sparks, Megawati Hangestri Ternyata Punya 'Ritual' Unik Usai Pertandingan

Saat masih membela Red Sparks, Megawati Hangestri ternyata punya 'ritual' unik usai pertandingan. Kebiasaan sederhana ini bikin chemistry tim makin erat.
Solar Panel di Makam Vidi Aldiano Hilang, Sang Ayah: Semoga Malingnya Dapat Hidayah

Solar Panel di Makam Vidi Aldiano Hilang, Sang Ayah: Semoga Malingnya Dapat Hidayah

Ayah mendiang Vidi Aldiano, Harry Kiss, mengungkap solar panel yang digunakan untuk penerangan di makam sang putra hilang. Ia pun menyampaikan sindirannya.
I.League Resmi Adopsi Aturan FIFA di Piala Dunia 2026: Tutup Mulut Dikenai Kartu Merah di Super League 2026-2027

I.League Resmi Adopsi Aturan FIFA di Piala Dunia 2026: Tutup Mulut Dikenai Kartu Merah di Super League 2026-2027

I.League selaku pengelola kasta tertinggi Liga Indonesia, Super League, resmi mengadopsi aturan FIFA di Piala Dunia 2026, yaitu larangan menutup mulut saat berkonfrontasi.
Tahu Putrinya Live di Medsos, Ruben Onsu Bereaksi Tegas: Kenapa Anak Jawab Komen?

Tahu Putrinya Live di Medsos, Ruben Onsu Bereaksi Tegas: Kenapa Anak Jawab Komen?

Jauh sebelum postingan artis indonesia ini, polemik mengenai aksi anak Live Streaming sudah pernah dipermasalahkan Ruben Onsu.

Trending

Reaksi REMISI usai Ditandai dalam Pesan Perpisahan Pria yang Tewas Diduga Akhiri Hidup di GBK: Rest In Love Fajar Sahrudin

Reaksi REMISI usai Ditandai dalam Pesan Perpisahan Pria yang Tewas Diduga Akhiri Hidup di GBK: Rest In Love Fajar Sahrudin

REMISI org, organisasi wadah penyandang disabilitas psikosial merespon ucapan terima kasih Fajar Sahrudin (31), warga Lampung yang tewas akhiri hidup di GBK.
6 Fakta Terbaru Kematian Fajar Sahrudin yang Diduga Akhiri Hidupnya, dari Kirim SOS hingga Reaksi Pengelola GBK

6 Fakta Terbaru Kematian Fajar Sahrudin yang Diduga Akhiri Hidupnya, dari Kirim SOS hingga Reaksi Pengelola GBK

Kabar kematian Fajar Sahrudin alias FS (31), pria asal Lampung yang viral meninggal dunia diduga akibat bunuh diri di GBK memunculkan sejumlah fakta terbaru.
Fajar Sahrudin Ditemukan Tak Bernyawa di Kawasan GBK, Polisi Akui Temuan Jasad Berawal dari Sinyal SOS

Fajar Sahrudin Ditemukan Tak Bernyawa di Kawasan GBK, Polisi Akui Temuan Jasad Berawal dari Sinyal SOS

Seorang pria bernama Fajar Sahrudin ditemukan meninggal dunia di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) pada Minggu (6/9/2026) dini hari.
Awal Mula Fajar Sahrudin Ditemukan Tewas di GBK Terungkap, Kirim Sinyal SOS dan Tulis Pesan Perpisahan di Media Sosial

Awal Mula Fajar Sahrudin Ditemukan Tewas di GBK Terungkap, Kirim Sinyal SOS dan Tulis Pesan Perpisahan di Media Sosial

Awal mula Fajar Sahrudin ditemukan tewas di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, mulai terungkap. Ini penjelasan pihak kepolisian.
Bukan Cuma Hoki! 5 Zodiak Ini Diprediksi Kariernya Makin Bersinar Besok 11 September 2026

Bukan Cuma Hoki! 5 Zodiak Ini Diprediksi Kariernya Makin Bersinar Besok 11 September 2026

Karier 5 zodiak ini diprediksi makin moncer besok, 11 September 2026. Ada yang dilirik atasan, dapat peluang baru, hingga ide yang bikin namanya diperhitungkan!
Dua Sejoli Kubur Bayi di Rumah Roboh di Jakarta Barat, Alasan Habisi Nyawa Anaknya Sendiri Karena Takut Tetangga Dengar Tangisannya

Dua Sejoli Kubur Bayi di Rumah Roboh di Jakarta Barat, Alasan Habisi Nyawa Anaknya Sendiri Karena Takut Tetangga Dengar Tangisannya

Pasangan kekasih berinisial R (28) pria dan E (23) wanita tega menghabisi nyawa anaknya sendiri di Jakarta Barat. Mereka menguburkannya di sebuah rumah roboh terbengkalai.
Ditemukan Tak Bernyawa di GBK, Fajar Sahrudin Sempat Divonis Bipolar Disorder, Ini Penyebabnya

Ditemukan Tak Bernyawa di GBK, Fajar Sahrudin Sempat Divonis Bipolar Disorder, Ini Penyebabnya

Viral Seorang pria bernama Fajar Sahrudin ditemukan meninggal dunia di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) pada Minggu (6/9/2026) dini hari.
Selengkapnya

Viral

ADVERTISEMENT