Dari Kebiasaan Membakar ke Ekonomi Sirkular, Kisah Petani Hutan di Sekitar Lapangan Gas JTB
- tvOne - dewi rina
Sementara itu, keberadaan peternakan dan rumah produksi kompos membuka kegiatan ekonomi baru melalui pengelolaan bersama.
Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan usaha tersebut dapat berjalan secara mandiri. Koperasi perlu terus memperkuat tata kelola, menjaga kualitas produk, memperluas jaringan pemasaran, serta memastikan pembagian hasil usaha berlangsung sesuai kesepakatan anggota.
Pengukuran dampak lingkungan juga perlu dilanjutkan untuk memastikan penurunan kebiasaan pembakaran dapat dipertahankan. Demikian pula dengan pencatatan pendapatan usaha agar perkembangan ekonomi kelompok dapat dipantau secara transparan.
Bagi petani penggarap lahan hutan, upaya menjaga lingkungan dan mencari penghasilan bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Pengolahan limbah menjadi pakan dan kompos memberikan contoh bahwa sisa hasil pertanian dapat dimanfaatkan kembali, sementara peternakan memberikan ruang usaha baru bagi masyarakat.
Di sisi lain, pengembangan produk pangan lokal di Desa Ngasem memperlihatkan bahwa potensi desa dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang melibatkan lebih banyak warga.
Kehadiran koperasi dan pendampingan usaha menjadi bagian penting untuk menghubungkan potensi tersebut dengan peluang pasar.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pemberdayaan bukan hanya jumlah bantuan, ternak, atau kegiatan yang terlaksana. Lebih dari itu, keberhasilan terlihat ketika masyarakat mampu mempertahankan perubahan perilaku, mengelola usaha secara mandiri, dan merasakan manfaat ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Di sekitar Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru, perubahan itu dimulai dari sesuatu yang sederhana: tidak lagi membakar limbah panen, melainkan mengolahnya menjadi sumber penghidupan. (dra/gol)
Load more