Jejak Hitam Eks Kapolres Bima Kota: Minta Alphard, Diduga Terima Rp1 Miliar dari Bandar hingga Titip Sabu ke Anak Buah
- Gambar ilustrasi AI
tvOnenews.com - Kasus yang menyeret mantan Kapolres Bima Kota, AKBP Didik Putra Kuncoro, menjadi salah satu perkara yang paling menyita perhatian publik pada awal 2026.
Seorang perwira menengah Polri yang semestinya berada di garis depan pemberantasan narkotika justru terseret dalam pusaran dugaan penyalahgunaan narkoba dan praktik perlindungan terhadap jaringan peredaran sabu.
Perkara ini tidak hanya berbicara mengenai dugaan kepemilikan narkotika. Dalam proses penyelidikan, penyidik juga mengungkap adanya dugaan aliran uang miliaran rupiah dari bandar narkoba, permintaan mobil mewah Toyota Alphard, hingga penitipan koper berisi narkotika kepada mantan anak buahnya. Rangkaian fakta tersebut membuat kasus ini menjadi sorotan nasional.
Kini, setelah AKBP Didik Putra Kuncoro resmi berstatus tersangka, publik kembali menengok bagaimana kronologi kasus tersebut terungkap. Berikut kilas balik perjalanan perkara yang mengguncang institusi kepolisian tersebut.
Permintaan Toyota Alphard Berujung Dugaan Aliran Dana Bandar Narkoba
Nama AKBP Didik Putra Kuncoro pertama kali ramai diperbincangkan setelah muncul dalam perkara yang melibatkan mantan Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Bima Kota, AKP Malaungi.
Kuasa hukum AKP Malaungi, Dr Asmuni, mengungkapkan kliennya mendapat tekanan untuk menyediakan satu unit Toyota Alphard keluaran terbaru dengan nilai sekitar Rp1,8 miliar.
"Jadi, ini bentuk tekanannya, klien kami (AKP Malaungi) dibebankan untuk membeli atau memberikan satu unit mobil ini," kata Asmuni.
- Antara
"Jadi, Koko Erwin ini yang pertama kali hubungi klien kami menawarkan bantuan dengan syarat bisa mengedarkan sabu-sabu di Kota Bima," ujar Asmuni, dilansir dari Antara, Kamis (12/2/2026).
Menurut Asmuni, permintaan tersebut muncul di tengah isu yang berkembang di masyarakat mengenai dugaan adanya setoran rutin dari bandar narkoba kepada Kapolres Bima Kota saat itu. Untuk meredam isu tersebut, AKP Malaungi disebut diminta mencari dana sekaligus menyediakan mobil mewah tersebut.
Asmuni juga menyebut sebagian uang bahkan diminta disiapkan untuk kebutuhan lain.
"Karena bingung, tertekan, klien kami ini cerita ke istrinya. Dari mana saya dapat uang sebanyak itu untuk beli mobil Alphard? Kalau tidak dipenuhi, klien kami dicopot dari jabatannya, diparkir di lapangan Bhara Daksa Polda NTB. Istrinya pun sempat minta AKP Malaungi lepas saja jabatan itu, terlalu berat," ujar Asmuni, sebagaimana dikutip Antara.
Load more