3 Figur Publik yang Bereaksi atas Kasus Yurizal Pasien BPJS, dr. Gia Ajak Berempati
- Kolase tvOnenews.com / Instagram @giapratamamd @claurakiehl @sumargodenny
"Setiap kali kasus seperti ini viral, pembahasannya langsung berputar di satu pertanyaan, siapa yang salah dan siapa yang benar. Menurut aku, justru itu bukan pertanyaan yang paling penting.
Pertanyaan yang sebenarnya lebih penting adalah, kenapa begitu banyak orang Indonesia, termasuk tenaga kesehatan, sering merasa bahwa pasien BPJS layak ditelantarkan hanya karena menggunakan BPJS?
Tingkat ketidakpercayaan publik seperti ini gak muncul dalam semalam. Ini terbentuk dari cerita-cerita yang terus bermunculan selama bertahun-tahun (ada yang terverifikasi, ada yang tidak) tentang pasien dan keluarganya yang merasa diabaikan di saat mereka paling membutuhkan pertolongan.
Kalau tuduhan dalam kasus ini terbukti benar, maka mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban. Apa pun hasil akhirnya, publik tetap berhak mendapatkan transparansi.
Tapi di luar kasus ini, ada pertanyaan yang jauh lebih besar yang perlu kita renungkan, apakah tanpa kita sadari, kita sudah menciptakan sistem kesehatan di mana status asuransi seseorang memengaruhi rasa aman mereka saat melangkah masuk ke rumah sakit?
Layanan kesehatan bukanlah hak istimewa bagi mereka yang mampu membayar lebih. Martabat, empati, dan pelayanan medis yang tepat waktu seharusnya TIDAK pernah bergantung pada apakah seseorang membawa kartu BPJS atau asuransi swasta. Pasien ini, dan setiap keluarga di Indonesia, berhak mendapatkan jawaban, akuntabilitas, dan sistem kesehatan yang benar-benar bisa mereka percaya," tulis Cinta Laura.
2. dr. Gia Pratama
Kasus yang menimpa Yurizal Tri Chaerawan, pasien BPJS Kesehatan yang sempat mengeluhkan lamanya menunggu kamar rawat inap sebelum meninggal dunia, masih terus menyisakan perhatian publik. Di tengah polemik komentar bernada sinis dari sejumlah oknum nakes, muncul suara reflektif dari dokter umum sekaligus kreator edukasi kesehatan, dr. Gia Pratama Putra.
Melalui akun Instagram pribadinya, dr. Gia mengajak para dokter dan tenaga kesehatan untuk kembali mengingat esensi profesi yang mereka jalani. Menurutnya, kompetensi medis saja tidak cukup jika tidak dibarengi empati dan sikap profesional terhadap pasien.
Unggahan tersebut mendapat banyak respons positif karena dinilai menjadi pengingat penting di tengah sorotan masyarakat terhadap etika komunikasi tenaga kesehatan.
Load more