Air Mata Zaskia Adya Mecca Jatuh di Tengah Karhutla Palangkaraya, Sampai Tak Bisa Berkata-kata
- Instagram @zaskiadyamecca
tvOnenews.com - Zaskia Adya Mecca tak kuasa menahan air mata saat menyaksikan langsung kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Melalui unggahan Instagram Reels, Zaskia Adya Mecca memperlihatkan kondisi kebakaran di lahan gambut sekaligus mendengar cerita para relawan yang berjuang memadamkan api.
Dalam video tersebut, Zaskia tampak terjun langsung ke lokasi kebakaran dan berinteraksi dengan sejumlah relawan. Ia melihat betapa sulitnya proses pemadaman karhutla, mulai dari api yang tidak mudah padam di lahan gambut hingga keterbatasan selang yang digunakan untuk menjangkau titik api.
Saat melihat kondisi hutan yang terbakar, Zaskia juga mempertanyakan dugaan adanya pembakaran yang disengaja. Ia menyampaikan keprihatinannya melihat kebakaran yang terus terjadi dan menambah berat perjuangan para relawan.
![]()
Karhutla Palangkaraya, Kalimantan Tengah. (Sumber: Instagram @zaskiadyamecca)
“Ada kemungkinan ini dibakar, kurang apa sih mesti ngebakar-bakar lagi,” ucap Zaskia dalam video tersebut.
Di tengah percakapan itu, seorang relawan menceritakan temuan botol yang menurutnya memiliki bau seperti bahan bakar. Temuan tersebut membuat dugaan mengenai penyebab kebakaran menjadi salah satu hal yang disoroti dalam video tersebut.
“Kami menemukan satu botol, kalau dari baunya bau Pertalite, bau bensin gitu,” ucap relawan tersebut.
Relawan itu kemudian menjelaskan bagaimana mereka harus berpindah dari satu titik kebakaran ke titik lainnya. Setelah memadamkan api di suatu lokasi, mereka kembali menghadapi titik api baru di area berbeda.
“Kemarin itu kami arah pertama itu dari sebelah sana itu, Kak, sebelah kirinya tower, sebelahnya tower itu, padamkan, padamkan, berikutnya di sana itu. Di sana padam, sekarang sebelah sini,” tutur relawan tersebut.
Cerita itu menggambarkan tantangan yang dihadapi para relawan dalam menangani karhutla di Palangkaraya. Api yang muncul di sejumlah titik membuat proses pemadaman membutuhkan tenaga, waktu, serta peralatan yang tidak sedikit.
Ketika ditanya mengenai perasaan mereka, salah seorang relawan mengungkapkan kelelahan dan kekecewaan. Ia mengaku telah menjalani perjuangan panjang untuk memadamkan api, tetapi masih mendapati dugaan adanya pihak yang melakukan pembakaran.
“Kami di sisi lain, kami memadamkan, luar biasa capeknya, lelahnya, tiga bulan tanpa istirahat, tapi di sisi lain ada juga oknum yang seperti itu gitu loh,” kata relawan tersebut.
Relawan itu juga menceritakan beratnya pekerjaan membentangkan selang hingga sembilan rol. Setelah proses pemadaman selesai, mereka masih harus menggulung peralatan ketika hari mulai gelap. Meski kelelahan, mereka tetap berusaha menangani api karena khawatir kebakaran berdampak lebih luas.
“Perjuangan bentang sembilan rol, belum lagi nanti sambungnya, proses selesai kita menggulung di saat sudah gelap, tapi kami tetap maju karena bisa dibayangkan ini terjadi apa-apa dengan SUTET ini bukan cuma Palangkaraya, yang mungkin mati lampu atau apalah itu,” ujar relawan tersebut.
Ia menyoroti risiko apabila kebakaran sampai mengganggu saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET). Dampaknya dikhawatirkan tidak hanya dirasakan masyarakat di sekitar lokasi, tetapi juga berpotensi memengaruhi pasokan listrik di wilayah yang lebih luas.
Mendengar penjelasan para relawan sekaligus melihat kondisi kebakaran secara langsung, air mata Zaskia Adya Mecca pun jatuh. Ia kemudian menepi ke posisi yang lebih aman setelah menyaksikan beratnya situasi di lapangan.
Zaskia bersama timnya juga direkomendasikan oleh relawan untuk mendokumentasikan lokasi lain yang masih terbakar. Dengan begitu, kondisi kebakaran di kawasan tersebut dapat terlihat lebih jelas, termasuk titik-titik yang belum berhasil dipadamkan.
Kebakaran hutan dan lahan di Palangkaraya sendiri telah menjadi perhatian sejak awal 2026. Pemerintah Kota Palangka Raya melalui BPBD memberlakukan Status Siaga Darurat Karhutla pada awal Juni seiring masuknya musim kemarau. Sementara itu, kebakaran skala kecil disebut sudah terdeteksi sejak Januari akibat kondisi tanah gambut yang relatif kering.
Hingga akhir Oktober 2026, karhutla di Palangka Raya dilaporkan masih berlangsung dan belum sepenuhnya padam setelah lebih dari empat bulan. Situasi tersebut membuat upaya pemadaman terus menjadi tantangan bagi petugas dan relawan di lapangan.
Pengalaman menyaksikan langsung kondisi tersebut membuat Zaskia kesulitan mengungkapkan perasaannya. Dalam keterangan unggahan Instagram Reels, ia menuliskan kalimat singkat yang menggambarkan kebingungannya setelah melihat dan mendengar perjuangan para relawan.
“Sampe ga tau mau bikin caption apa.”
Unggahan Zaskia Adya Mecca memperlihatkan beratnya perjuangan para relawan dalam menghadapi karhutla di Palangkaraya. Di tengah keterbatasan peralatan dan kelelahan setelah berbulan-bulan bertugas, mereka tetap berupaya memadamkan api yang membakar kawasan hutan dan lahan gambut.
(anf)
Load more