Kisah Nabi Adam
- Viva
Ketika menceritakah kisah Nabi Adam, tentu secara otomatis pikiran kita langsung tertuju pada proses penciptaannya dan peristiwa keangkuhan iblis.
Kisah ini memang kerap menjadi rujukan penting ketika menceritakan kisah Nabi Adam karena nilai spiritual serta sejarahnya yang sangat penting. Kisah ini juga tercantum dalam Al-Quran.
Alkisah sebelum penciptaan makhluk hidup, Allah SWT mengumpulkan semua malaikatnya untuk berkumpul. Malaikat yang tak terhitung jumlahnya dan diciptakan dari cahaya dan iblis yang diciptakan dari api lalu berkumpul. Sang Khalik lalu berfirman seperti yang tercantum pada Q.S. Al-Baqarah ayat 30:
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Demi mendengar kehendak Allah tersebut, Iblis, yang juga merupakan bagian dari malaikat pun terkaget-kaget. Seperti yang telah difirmankan dalam Al-Quran, Iblis heran mengapa Allah ingin menciptakan makhluk yang dinilainya hanya akan berbuat kehancuran dan kezaliman. Tak hanya akan membawa bencana bagi bumi, manusia juga disebut akan saling menumpahkan darah satu sama lain.
Para malaikat dengan rasa takut dan cintanya kepada Allah juga merasa bahwa mereka sudah cukup karena mereka diciptakan tanpa nafsu dan senantiasa bertasbih, memuji, dan melaksanakan segala perintah Allah. Mereka pun sempat mempertanyakan keputusan Sang Khalik.
Namun Allah SWT Sang Maha Mengetahui lalu menjawab bahwa Ia mengetahui apa-apa yang tidak diketahui oleh malaikat. Ia lalu memerintahkan malaikat maut, Izrail, untuk mengambil sepotong tanah dari bumi yang dengannya Ia lalu menciptakan Adam, ayah seluruh umat manusia. Kisah Nabi Adam ini juga dicatat dalam Al-Quran surah Sad ayat 71-72:
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh (ciptaan)-Ku kepadanya; maka tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya.”
Kisah Nabi Adam ini dalam Hadits Muslim dinyatakan bahwa Adam diciptakan pada hari yang paling baik, yakni di hari Jumat. Namun pada akhirnya, dengan sepengetahuan dan kehendak Allah pula, Adam dibuang dari surga pada hari yang sama.
Mengenai penampilan fisik manusia pertama ini, Nabi Muhammad SAW pernah mendeskripsikannya pada umatnya. Beliau berkata, “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya. Tinggi beliau 60 hasta (sekitar 41 meter).” (HR. Bukhari no.6227, Muslim no. 2841)
Pada bagian ini terdapat kisah Nabi Adam yang menarik. Diriwayatkan oleh Bukhari, Nabi Muhammad SAW juga pernah menceritakan bahwa seketika penciptaan Nabi Adam selesai, Nabi Adam tiba-tiba bersin dan tanpa diajarkan sebelumnya ia berkata, "Alhamdulillahi rabbil alamin" yang bermakna "segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam". Perkataan ini pulalah yang dicatatkan sebagai kalimat pembuka dalam Al-Quran dalam surah Al-Fatihah.
Singkat cerita, setelah Nabi Adam selesai diciptakan, Allah memberi perintah pada malaikat dan iblis untuk bersujud padanya. Walaupun para malaikat diciptakan dari cahaya, mereka taat pada perintah Allah. Para malaikat kemudian bersujud pada Nabi Adam.
Lain halnya dengan Iblis, ia tetap bersikukuh dengan pendapatnya bahwa dirinya lebih baik dan lebih bermanfaat bagi Allah ketimbang manusia yang bersifat merusak. Merasa derajatnya lebih tinggi dari Nabi Adam, Iblis pun menolak untuk bersujud.
Allah seketika melaknat Iblis. Kelancangan ini membuktikan kelancangan Iblis atas perintah Allah SWT. Karena durhaka, Iblis pun dihukum keluar dari surga. Peristiwa pembangkangan Iblis ini juga tercatat di dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 34 yang berbunyi:
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.
Tak tinggal diam, Iblis yang sombong dan merasa mengetahui rencana Allah pun bersumpah akan menggoda Nabi Adam beserta keturunannya hingga akhir zaman. Iblis berharap Nabi Adam dan anak cucunya tergelincir menuju kesesatan dan turut bersamanya tinggal di neraka. Dengan ini Iblis ingin membuktikan bahwa manusia memang benar seperti apa yang ia duga, yakni pembawa bencana bagi dunia dan kerap berbuat zalim.
Penciptaan Siti Hawa
Pasca pembangkangan Iblis, Nabi Adam ditempatkan dalam surga. Sungguh tiada lapar dan haus, lelah atau bosan, panas atau dingin, serta segala sakit dan penderitaan yang dapat ditemukan di tempat ini. Hanya ada kenyamanan dan kesenangan semata.
Namun dibalik segala rasa bahagia ini, ternyata Nabi Adam diam-diam mendambakan seorang kawan dan pasangan tempat ia dapat berbagi kebahagiaan tersebut. Allah SWT Yang Maha Mengetahui lalu menciptakan pasangan bagi Nabi Adam dari tulang rusuknya saat ia tertidur.
Diriwayatkan oleh shahih Muslim, Ketika terbangun, ia mendapati Siti Hawa yang tengah duduk tepat di samping kepalanya yang terbaring. Untuk mengetes pengetahuan Nabi Adam, para malaikat pun bertanya siapakah nama perempuan yang berada di sampingnya. Singkat, Nabi Adam menjawab, "Hawa".
"Mengapa ia dinamakan Hawa?", para malaikat pun bertanya kembali.
Nabi Adam pun menjawab, "Karena ia diciptakan dari sesuatu yang hidup." Nabi Adam lalu menjelaskan bahwa Hawa diciptakan dari bagian tubuhnya yang hidup yakni tulang rusuknya yang bengkok. Malaikat puas dengan jawaban tersebut. Sejak saat itu Nabi Adam kian bahagia bersama Siti Hawa di dalam surga.
Diturunkannya Nabi Adam dan Siti Hawa ke Bumi
Kisah Nabi Adam tentu tak berhenti sampai disini. Dalam kehidupannya di surga, Allah mengizinkan Adam dan Hawa untuk menikmati apa saja yang ada di surga sesuka hati mereka. Namun secara spesifik, Allah SWT melarang mereka mendekati satu hal, yakni pohon khuldi.
Allah berfirman, “Wahai Adam, tinggallah Engkau dan istrimu di surga ini. dan makanlah makanan-makanan yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu mendekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.”
Walau Nabi Adam diajarkan banyak hal oleh Allah, namun ia tak mengetahui apa-apa yang tak Allah izinkan beliau untuk ketahui. Hal ini termasuk rencana Iblis menggelincirkan Adam dan Hawa untuk melanggar ketentuan Allah.
Disebutkan dalam beberapa riwayat, pohon khuldi merupakan pohon pengetahuan dimana ada pengetahuan yang baik dan yang jahat. Ada yang menyebut buah dari pohon ini dapat membangkitkan hawa nafsu. Ketika terbit hawa nafsu, maka sudah pasti akan ada rasa ketidakpuasan yang muncul.
Terlepas dari manfaat dan mudarat pohon surga ini, larangan tetaplah larangan. Apapun yang telah menjadi ketentuan Allah haram hukumnya untuk dilanggar.
Setan kemudian berbisik pada Adam dan Hawa tentang keistimewaan pohon Khuldi. Kisah ini tertulis di Al-Quran surah Thaha ayat 120, “Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?” bujuk Iblis.
Iblis lalu menghasut serta meracuni pikiran Adam dan Hawa dengan berbagai cara. Lambat laun berkat rayuan dan kerja keras Iblis, dua manusia pertama ini pun tergoda memakan buah khuldi. Seketika Allah pun murka. Nabi Adam dan Siti Hawa diputuskan untuk diasingkan dari surga dan diturunkan ke bumi.
Namun walau demikian, sejak awal Allah memang menakdirkan manusia untuk turun ke bumi dan menjadi pemimpin di tempat itu. Manusia diciptakan bukan dengan maksud untuk pemimpin di surga. Meskipun Adam dan Hawa telah bertaubat, Allah tetap memberikan hukuman pada mereka dengan turun ke bumi.
Nabi Adam diturunkan di tempat yang terpisah dengan Siti Hawa. Sebagian rujukan menyatakan bahwa Nabi Adam diturunkan di daerah India, sedangkan Siti Hawa berada di dataran Arab.
Allah berfirman dalam Q.S. Al-A'raf ayat 24 dan 25, "“Turunlah kamu! Kamu akan saling bermusuhan satu sama lain. Bumi adalah tempat kediaman dan kesenanganmu sampai waktu yang telah ditentukan. Di sana kamu hidup, di sana kamu mati, dan dari sana (pula) kamu akan dibangkitkan."
Kisah Nabi Adam ini tentu mengingatkan kita semua terutama umat Muslim bahwa tidak akan ada kebaikan yang dapat diraih dari ketidaktaatan pada ketentuan Allah. Kita harus selalu melakukan apa yang diperintahkan serta menjauhi apa-apa yang dilarang-Nya. Kisah Nabi Adam yang diturunkan ke bumi ini patut menjadi pelajaran sekaligus pengingat bagi seluruh umat manusia. (afr)
Load more