Teks Khutbah Jumat 20 Maret 2026: Hikmah Silaturahmi yang Sering Terlupakan saat Momentum Lebaran
- iStockPhoto
Jakarta, tvOnenews.com - Lebaran Idul Fitri merupakan hari raya bagi umat Islam yang jatuh pada 1 Syawal. Momen ini sebagai tanda berakhirnya ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan.
Saat memasuki Lebaran, manusia terutama umat Islam kembali kepada kesucian atau fitrahnya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah menemukan kemenangan atas hawa nafsu.
Di momen Lebaran, silaturahmi merupakan salah satu tradisi umat Islam. Tujuan silaturahmi untuk menyambung kembali tali persaudaraan dan kasih sayang kepada sesama terutama keluarga.
Sayangnya di balik perayaan ini, sering kali umat Muslim terjebak dalam memaknai silaturahmi yang salah. Kebanyakan melakukan silaturahmi hanya sebagai rutinitas seremonial sehingga melupakan makna dari silaturahmi.
Oleh karena itu, tvOnenews.com akan merekomendasikan teks khutbah Jumat singkat terbaru untuk pelaksanaan shalat Jumat, 20 Maret 2026, dengan judul "Hikmah Silaturahmi yang Sering Terlupakan saat Momentum Lebaran".
Teks Khutbah Jumat: Hikmah Silaturahmi yang Sering Terlupakan saat Momentum Lebaran
- Ilustrasi/istockphoto
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَتَمَّ لَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ، وَوَفَّقَنَا لِصِيَامِهِ وَقِيَامِهِ، وَجَعَلَ لَنَا يَوْمَ الْعِيْدِ فَرَحًا وَسُرُوْرًا، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
Sidang Jumat rahimakumullah,
Pertama-tama, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah menentukan kita menyelesaikan bulan Ramadhan. Berkat-Nya, kita mendapat anugerah dan keberhasilan dalam berpuasa dan ibadah selama di bulan Ramadhan, serta Allah SWT menjadikan Hari Raya Idul Fitri sebagai hari yang penuh sukacita dan kebahagiaan bagi kita semua.
Sholawat serta salam kepada baginda kita, Nabi Muhammad SAW. Ya Allah, limpahkanlan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, serta kepada keluarga hingga seluruh sahabatnya.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Pada kesempatan khutbah Jumat kali ini, khatib akan membahas tentang Hari Raya Idul Fitri. Hal ini mengingat Kementerian Agama (Kemenag) teleh menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Idul Fitri 2026 jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Sebagaimana diketahui, Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi umat Islam terutama bagi kita yang masih dapat berkumpul di masjid tercinta ini.
Makna hari kemenangan dalam Idul Fitri menunjukkan tanda kita telah berhasil melalui bulan Puasa, yakni bulan Ramadhan.
Pada momen Idul Fitri 2026, umat Islam tentu mempunyai tradisi dalam perayaannya dengan penuh suka cita. Beberapa tradisi yang sering terjadi di Indonesia, di antaranya saling memaafkan, mudik, berkumpul bersama keluarga, hingga silaturahmi antarmanusia.
Namun, di balik kemeriahan Lebaran, terdapat nilai penting yang kerap kali terlupakan, yakni silaturahmi sebagai ibadah dan tidak hanya sekadar menjadi tradisi semata.
Sesungguhnya dalam agama Islam, orang yang menjaga hubungan antarsesama merupakan bagian dari ketakwaan kepada Allah SWT.
Silaturahmi memiliki beberapa kata, yakni shilah yang artinya "menyambung" dan rahim berarti "kekerabatan". Dalam hal ini, silaturahmia mempunyai arti sebagai aktivitas menyambung hubungan kekeluargaan dan persaudaraan.
Dalam konteks Islam, silaturahmi sebenarnya tidak hanya terbatas pada menjalin dan memperarat hubungan pada keluarga, tetapi melingkupi tetangga hingga sesama Muslim. Tujuannya untuk menciptakan bagian dari ukhuwah Islamiyah.
Perlu diketahui, silaturahmi tidak hanya bertemu maupun berkunjung, tetapi juga aktivitas untuk menjaga kasih sayang hingga kepedulian secara terus-menerus.
Jemaah shalat Jumat dimuliakan Allah,
Silaturahmi mempunyai banyak keutamaan. Sayangnya keistimewaan dari ibadah ini banyak yang sering terabaikan.
Padahal dalam hadis riwayat shahih dan dalil Al-Quran, Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa, siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya oleh Allah SWT, maka hendaklah seseorang menyambung silaturahmi.
Tak hanya itu, silaturahmi juga sangat berdampak agar Allah SWT menurunkan keberkahan hidup hingga pengampunan dosa kepada hhamba-Nya.
Sebaliknya, bagi siapa yang memutus hubungan kekerabatan rentan mendapat dosa besar. Bahkan, ada ancaman keras sesuuai dengan penjelasan dalam Al-Quran.
Maka dari itu, bagi yang menjaga silaturahmi, orang mukmin tidak sekadar melakukan hubungan sosial yang semakin erat, namun juga menunjukkan ia mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Di era modern saat ini, fenomena perayaan Lebaran kerap kali hanya mengandung formalitas. Tak sedikit dari mereka memfokuskan aktivitas di mediai sosial ketimbang interaksi terhadap sesama manusia secara langsung.
Ironisnya, banyak orang yang masih merasakan kerenggangan hubungan keluarganya walaupun sudah saling memaafkan. Dari fenomana ini, nilai silaturahmi mulai bergeser yang tadinya mengandung ibadah, kini berubah hanya sekadar kebiasaan sekali dalam setahun.
Maka dari itu, khatib sedikit membagikan rekomendasi cara menghidupkan kembali silaturahmi yang bermakna pada momentum Hari Raya Idul Fitri.
Langkah pertama meniatkan setiap kunjungan dengan tujuan beribadah kepada Allah SWT. Kita bisa mengunjungi orang tua, keluarga hingga kerabat yang sudah lama tidak berjumpa.
Kemudian, kita menanamkan niat tulus saat saling memaafkan. Kebanyakan fenomena ini harus sebatas formalitas dalam segi ucapan semata.
Selain itu, hal penting lainnya yakni menjaga komunikasi, apalagi setelah momentum Lebaran. Tujuannya menciptakan silaturahmi yang tidak bersifat musiman.
Khutbah II
Saudaraku jemaah shalat Jumat yang dibahagiakan Allah,
Demikianlah khutbah pertama disampaikan khatib pada sesi shalat Jumat hari ini. Perlu diketahui, silaturahmi merupakan amalan mulia. Dengan adanya silaturahmi, kita bisa mendapat keberkahan hidup baik di dunia maupun di akhirat.
Momentum Lebaran hendaknya sebagai titik awal memperbaiki hubungan yang kurang, apalagi sempat terputus. Melalui khutbah Jumat ini, semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita dalam tali persaudaraan hingga memperkuat ukhuwan Islamiyah. Aamiin ya Rabbal Aalaamiin.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛
(hap)
Sumber Referensi: Quran Kemenag RI, NU Online, Muhammadiyah, MUI, Yayasan Amal Jariyah Indonesia, dan berbagai sumber.
Load more