Teks Khutbah Jumat 1 Mei 2026: Hari Buruh dalam Islam, Saatnya Angkat Martabat Para Pekerja
- tim tvone - syamsul huda
Jakarta, tvOnenews.com - Tanggal 1 Mei dikenal sebagai Hari Buruh Internasional. Biasanya penyebutan terpopulernya adalah "May Day" yang diperingati setiap tahun oleh pekerja di seluruh dunia.
Di Indonesia, tanggal 1 Mei tidak dikenal sebagai Hari Buruh, tetapi juga menjadi momentum hari libur nasional. Hal ini sudah sesuai Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2013.
Dalam peringatan Hari Buruh Internasional, terdapat momentum sosial. Namun dalam agama Islam, umat Muslim menjadikan peringatan ini sebagai ruang refleksi diri.
Maka dari itu, tema tentang peringatan Hari Buruh sangat cocok diangkat dalam pembahasan teks khutbah Jumat singkat terbaru untuk pelaksanaan shalat Jumat, 1 Mei 2026.
Teks Khutbah Jumat: Hari Buruh dalam Islam, Saatnya Angkat Martabat Para Pekerja
- Tim tvOnenews/Aldi Herlanda
Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيمَ وبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيمَ فى العالمين إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَيَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Pertama-tama marilah kita mengucapkan segala puji bagi Allah SWT. Berkat-Nya, kita masih mendapat rahmat hingga karunia-Nya sehingga dapat berkumpul di masjid tercinta ini.
Tak lupa, marilah kita bersholawat serta salam tercurahkan kepada Baginda kita, Nabi Muhammad SAW. Beliaulah sebagai sosok teladan dalam akhlak mulianya.
Sidang Jumat yang berbahagia,
Apakah kita mengingat tanggal pada hari ini? Ya, kita sudah memasuki tanggal 1 Mei sebagai waktu memperingati Hari Buruh.
Perlu kita ketahui bahwa Hari Buruh menjadi momentum penting untuk mengingat perjuangan dan kontribusi para pekerja. Tujuan mereka tidak lepas untuk membangun kehidupan sosial dan ekonomi.
Dalam perspektif Islam, tema tentang Hari Buruh sangat relevan untuk menjadi pembahasan dalam materi khutbah Jumat hari ini. Menurut khatib, tema ini sebagai bagian dari dakwah sosial yang menekankan betapa pentingnya keadilan sosial.
Selain keadilan, tema ini juga sekaligus memberikan penghormatan terhadap martabat pekerja. Dalam dalil Al-Quran melalui Surat At-Taubah Ayat 105, Allah SWT berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ
Artinya: "Katakanlah (Nabi Muhammad), "Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan." (QS. At-Taubah, 9:105)
Kaum muslimin rahimakumullah,
Dalam pandangan agama Islam, bekerja merupakan bagian dari ibadah. Hal ini benar-benar bergetar dalam hati apabila dilakukan dengan niat yang benar.
Setiap profesi yang bersifat halal pasti memiliki nilai kemuliaan. Mulai bekerja sebagai buruh, petani, maupun pedagang.
Dalam tafsir Surat At-Taubah Ayat 105, Allah SWT memberikan perintah kepada hamba-Nya untuk bekerja dan berkaya. Bahkan, dalam hadis riwayat shahih sekalipun termasuk dari Imam Bukhari menyebutkan, seseorang bekerja menggunakan tangan sendiri lebih mulia ketimbang meminta-minta.
Fenomena seperti ini menunjukkan tingginya etos kerja Islam dan penghargaan terhadap jerih payah pekerja.
Saudaraku yang dimuliakan Allah,
Agama Islam sangat tegas. Islam juga mengatur tentang hak buruh, mulai dari kewajiban membayar upah untuk pekerja secara adil. Dalam hadis riwayat yang mahsyur, Rasulullah SAW bersabda:
"Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering." (HR. Ibnu Majah)
Hadis ini juga dihimpun dalam Bulughul Maram. Hal tersebut memberikan penegasan betapa pentingnya etika dilakukan oleh majikan terhadap pekerja secara manusiawi.
Hadis ini juga menunjukkan bagaimana majikan maupun atasan menghindari kezaliman. Tujuannya untuk tetap menjaga atau menghindari kerenggangan dalam hubungan kerja.
Terkait momentum tanggal 1 Mei, Hari Buruh sebagai waktu terbaik untuk muhasabah Hari Buruh. Maksudnya, kita harus mengintrospeksi apakah kita sudah berlaku adil, baik terhadap atasan maupun pekerja.
Perintah ini telah tercatat dalam dalil Al-Quran melalui Surat An-Nahl, Allah SWT berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Artinya: "Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat." (QS. An-Nahl, 16:90)
Sayangnya tafsir ini tidak berjalan secara optimal. Kita bisa melihat realitas seperti eksploitasi tenaga kerja hingga ketimpangan upah masih kian terjadi.
Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam setidaknya harus menjadi pelopor. Kita mampu menciptakan keadilan ekonomi sesuai syariat agama Islam.
Kita bisa mengacu pada kisah Rasulullah SAW. Beliau adalah teladan memperlakukan pekerja dengan penuh kasih sayang dan keadilan.
Dalam hadis riwayat shahih Imam Muslim, kehadiran pekerja harus mendapat perlakuan yang sama seperti saudara. Dalam sirah, Nabi tidak merendahkan pelayannya, bahkan memberikan akhlak yang luhur.
Melalui kisah ini, hal tersebut sebagai dasar penting dalam kepemimpinan Islam yang berkeadilan.
Khutbah II
Demikianlah khutbah pertama disampaikan pada hari ini. Sebagai penutup khutbah Jumat, saya mengajak jemaah untuk menegakkan keadilan dan menghormati pekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Pasalnya, setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Maka dari itu, betapa pentingnya menjaga hak sesama manusia. Semoga Allah SWT memberikan keberkahan kepada para pekerja dan membuat kita menjadi golongan menegakkan keadilan sosial. Amiin ya Rabbal Alamiin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
(hap)
Sumber Referensi: Quran Kemenag RI, NU Online, kitab Riyadhus Shalihin, Tafsir Ibnu Katsir, Yayasan Amal Jariyah Indonesia.
Load more